Connect with us

Politik

SUDAH TERUJI, PETRUS FATLOLON MASIH “PERKASA” & BERPELUANG MENANG PILKADA KKT

Published

on

Oleh :
Selvianus Kilat Imsula
(Komponen Pemuda & Mahasiswa KKT)

PEMILU serentak 14 Februri 2024 telah selesai, kali ini rakyat Indonesia akan disibukan dengan pesta demokrasi lokal lima tahunan pada pemilihan kepala daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota pada medio November 2024 mendatang.

Politik sebagai instrumen penting penunjang keberhasilan demokrasi semakin ke sini makna politik telah di defenisikan sebagai gerakan yang tak baik dan wacana itu tumbuh subur dalam lingkungan masyarakat. Ini bukan tanpa sebab melainkan narasi penyimpangan makna politik terjadi dikarenakan perilaku politisi yang terlalau banyak tebar janji sampai pada implementasi janji yang tak jelas, salah sasaran dan bahkan tak dilaksanakan. Pemilu sarat akan janji manis, ini menjadi taktik pencarian suara untuk mendongkrak kemenangan yang bukan menjadi sesuatu baru lagi, melainkan barang lama yang telah menjadi taktik rutinitas dalam pertarungan politik.

SELVIANUS KILAT IMSULA

Kabupaten Kepulauan Tanimbar daerah kepulauan yang berbatasan langsung dengan Negara Australia merupakan daerah pesisir yang menjadi bagian juga dari visi besar pemerintah, yakni membanguan dari daerah pesisir atau teori makan bubur panas ala Presiden Jokowi yang dengan makna lain, teori makan bubur panas memberikan gambaran pembangunan tak harus selalau dari tengah.

Berangkat dari situ, Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang dikenal dengan julukan Duan Lolat akan menghadapi pesta demokrasi Pemilihan Bupati pada November mendatang. Walaupun pemilihan akan di lakukan November nanti, tetapi kerja-kerja politik telah dipersiapkan dan dikerjakan jauh hari sebelum tulisan ini hadir. Ini menjadi gambaran bahwa mencuri start bukan sekedar untuk perkuat jejaring akar rumput, tetapi ada juga garapan isu yang menjadi langkah penting untuk mempersiapakan peralatan perang.

Salah satu kandidat yang tak bisa diremehkan keberadaannya adalah politisi senior Petrus Fatlolon (Bupati KKT Periode 2017-2024). Petrus Fatlolon menjadi lawan tanding yang cukup berat dikarenakan posisi incumbent ada pada beliau. Telah menjadi hal lumrah bahwa incumbent merupakan kandidat yang paling sering ditakuti dalam Pilkada, walaupun pada kenyataan terbalik yang menjadi salah satu preseden, misalnya pertarungan Gubernur Maluku Said Assagaff, sebagai incumbent ditumbangkan olehMurad Ismail.

Namun, Petrus Fatlolon dengan sepak terjang politiknya menjadi bekal yang baik dan itu terbukti dengan kemenangan beliau menjadi Bupati ke-3 Kabupaten Maluku Tengara Barat yang telah diganti namanya menjadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar dengan tajuk “Duan Lolat” itu.

Pilkada November mendatang Petrus Fatlolon, kembali bertarung dan tetap memastikan pendopo di jalan poros itu harus dihuni kembali oleh Petrus Fatlolon. Keyakinan ini menjadi pegangan kuat dan pendongkrak kerja Petrus Fatlolon dan tim pemenanhan di Pilkada KKT.

Pertarungan Pilkada tahun 2017 lalu yang berakhir dengan kemenangan Petrus Fatlolon sampai pada akhir priodesasi 2022 lalu , banyak perubahan yang dirasakan oleh masyarakat Tanimbar dari ujung Selaru sampai ke Molu Maru. Bisa dilihat pada pembangunan jalan, tempat wisata, lampu jalan, pasar, renovasi rumah layak huni, internetan, listrik, rumah sakit dan puskemas rawat nginap, pendidikan, budidaya rumput laut, pembangunan Lapangan Mandriak dengan fasilitas yang sudah dipakai untuk pembukaan MTQ dan saat ini telah dipergunakan untuk kepentingan umum, dll; bahkan ketika dunia di landa wabah Covid-19 Petrus Fatlolon memilih untuk gajinya diberikan kepada gugus tugas untuk menangani masalah wabah non alam itu. Capaian itu semua tergambar dalam Visi besar Petrus Fatlolon dan Agustinus Utuwaly, yakni Cerdas, Berwibawa dan Mandiri.

Persis pertarungan Pilkada serentak November mendatang yang kembali diikuti oleh Petrus pada Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menjadi pertarungan yang cukup sengit karna hadirnya beberapa politisi senior, aktivis bahkan anak muda. Kandidat-kandidat yang bermunculan ini tentu mempunyi niatan yang baik demi dan untuk membangun Tanimbar. Akan tetapi Petrus Fatlolon sudah membuktikan kerjanya di Tanimbar walaupun ada juga ketidak berhasilan Petrus yang tak bisa dipungkiri dan sering kali dijadikan sebagai senjata serangan balik bagi Petrus Fatlolon.

Apakah Petrus Fatlolon Itu Lawan Dalam Pilkada?
Pertanyaan ini mungkin sedikit terdengar aneh, tapi mari kita periksa artikulasinya.
Mulai dari ucapan Anis Baswedan saat Pilpres kemarin, dia menganggap Ganjar dan Prabowo adalah kawan saing bukan lawan saing. Pernyataan itu memberikan keterangan yang cukup menarik sebab jika kontestan Pilkada dianggap lawan maka saling membunuh itu akan terjadi sebab konotasi dari lawan adalah musuh.

Berangkat dari kalimat di atas, mari lihat jawaban dari pertanyaan aneh itu.
seorang pejabat publik tidak bisa dinafikan bahwa pasti memiliki lawan politik dan itu bukan sesuatu yang baru. Memilih untuk menjadi oposisi dalam suatu pemerintahan adalah cahaya demokrasi dalam ruang kebebasan berpendapat, hal ini nyata terjadi di Tanimbar bumi Duan Lolat persis pada mantan Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar itu.

Petrus Fatlolon adalah kontestan Pilkada di Tanimbar yang cukup disegani, ini menjadi keyakinan tersendiri kepada kontestan lain dan lawan politik Petrus di Tanimbar yang sering tampil menjatuhkan dan menjelek-jelekan Petrus Fatlolon. Ini telah menjadi tabiat yang akan ada kapan pun karna diyakini bisa membongkar kekuatan basis sedangkan pada posisi lain Putrus melalui tim tampil defensive (bertahan sambil melawan) dengan mengambil langka hanya memjelaskan isu-isu buruk tentang Petrus tanpa menjatuhkan kontestan lain; ini alaha pengambilan posisi Petrus yang melihat kontestan lain sebagai kawan saing bukan lawan saing.

Tak berhenti disitu, Petrus Fatlolon, ketika masih menjadi Bupati Tanimbar, orang-orang yang bersebrangan dengan beliau malah dirangkul masukan ke dalam pemerintahan yang dipimpin oleh beliau dengan keyakinan ingin membangun Tanimbar bersama.

Dari gambaran itu ada kisi-kisi bahwa petarung sejatih bukanlah mereka yang melihat lawan layaknya musuh melainkan lawan yang dianggap sebagai kawan karna potensi-potensi yang dimiliki bisa dipakai untuk kebaikan bersama. Perangkulan lawan masuk ke dalam pemerintahan, sebagian kecil sdh dilakukan beberapa orang dan Petrus memilih cara itu pula dan berhasil tampil beda dari politisi-politisi lain di tanimbar. Cara ini mengingatkan kita sejenak akan ucapan tua seorang pahlawan Indonesia yaitu Johannes Leimena yang mengatakan; “politik adalah etika untuk melayani, bukan alat untuk mencapai kekuasaan.”

Apakah Petrus Fatlolon masih layak memimpin Tanimbar dari semua keberhasilan yang telah dia buat?
Mari renungkan pertanyaan ini sebagai warga Tanimbar yang cinta akan bumi Duan Lolat.(**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *