Politik
Sesumbar Tak Maju di Pilgub, HL-AV Dinilai Tak Konsisten & Komitmen



AMBON,DM.COM,-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku, telah menetapkan nomor urut pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku. Namun, sebagian besar masyarakat, tidak habis pikir komitmen dan konsistensi dari salah satu pasangan calon yang ingin memimpin daerah ini.
Adalah, Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath (HL-AV) yang saat ini mendapat nomor urut dua. Mereka pernah sesumbar di sejumlah media cetak dan media online kalau tidak akan maju mencalonkan diri merebut kursi orang pertama dan kedua didaerah ini.
Bahkan, ķomentar mereka bakal tidak maju di Pilhub Maluku, jauh hari sebelum HL-AV resmi berpasangan. HL yang juga anggota DPR RI Periode 2019-2024 yang saat itu belum terpilih kembali merebut kursi DPR RI Periode 2024-2029 pada pemilu legislatif 2024, sekitar medio Maret 2023 lalu, wakil rakyat dari Partai Gerindra ini sesumbar di publik bahwa tak akan maju mencalonkan merebut kursi Gubernur Maluku.
Ketua DPD Gerindra Provinsi Maluku, mengaku tetap fokus sebagai wakil rakyat jika terpilih kembali. Ketika itu, dia mengaku, sangat bersyukur duduk disenayan dan tidak berpikir maju di Pilgub. Namun, setelah terpilih merebut kursi DPR RI, HL mulai sibuk minta restu dan dukungan diberbagai kalangan untuk maju merebut kursi Gubernur Maluku.
Menariknya, HL beberapa kali gonta gangi pasangan Wakil Gubernur. Awalnya, HL ingin menggandeng teman sejawatnta di DPR RI, Saadiyah Uluputty. Setelah tidak lagi menggandeng Uluputty, HL kemudian melirik mantan Gubernur Maluku, Said Assagaff. Namun, terkendala aturan. HL kemudian balik haluan gandeng Ketua DPD Golkar Maluku, Ramli Umasugy. Entah kenapa, HL tiba-tiba menjatuhkan pilihan menggandeng AV.
Selain HL, AV yang sebelumnya sepakat berpasangan dengan bakal calon Gubernur Maluku, Febri Tetelepta, dengan lantang dan sombong di markas DPD PDIP Maluku, ketika mengembalikan berkas pendaftaran mengaku, jika tidak diusung PDIP, mantan Bupati Seram Bagian Timur, tidak akan maju mencalonkan diri merebut kursi Wakil Gubernur Maluku.
Namun, setelah PDIP resmi mengusung Jefri Apoly Rahawarin dan Mukti Keliobas, AV mulai panik dan sibuk mencari pasangan Gubernur. Akhirnya, HL-AV resmi berpasangan dan diusung Partai Gerindra, PPP, dan Perindo, Gelorà, dan PKN.
Menyikapi sikap inkonsistensi HL-AV, salah satu politisi Senior, Melkias Frans angkat bicara. Dia menilai, HL-AV tidak konsisten dan tidak komitmen atas ucapan dan tindakan mereka kalau tidak akan maju mencalonkan diri.”Mereka tidak memberikan contoh yang baik kepada masyarakat Maluku,”kata Frans, kepada DINAMIKAMALUKU.COM, Selasa (24/9/2024).
Akibatnya, ingat anggota DPRD Provinsi Maluku dua periode itu, masyarakat mulai apatis menganggap bahwa politik hanya tipu-tipu untuk mencapai kepentingan politik. Akhirnya, lanjut dia, pernyataan HL-AV, ramai dibahas warga termasuk di digroup Whatshap.
“Padahal politik itu mencerdaskan untuk mensejahterakan masyarakat lewat legislatif dan eksekutif. Jadi memang kehadiran parpol itu sebagai sarana menyiapkan kader sebagai pemimpin,”ingatnya.
Soal, klaim HL kalau Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang juga Ketua Umum DPP Partai Gerindra, merestui pencalonanya, mantan calon anggota DPR RI dan DPD RI, tidak percaya.”Setahu saya Pak Prabowo sudah menyatakan sikap bahwa tidak cawe-cawe di Pikada. Pak Prabowo mengatakan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat. Apakah pernyataan itu hanya untuk non kader Gerindra. Tapi setahu saya Pak Prabowo itu seorang mantan tentara yang konsisten,”tandasnya.
Untuk itu, Frans menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat memilih siapa calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku.”Tapi, pernyataan mereka (HL-AV) harus dipertangungjawabkan. Jangan sampai masyarakat beresepsi miring soal politik ini identik dengan tipu-tipu,”ingatnya.
Meski begitu, Frans juga menyoroti Jefri Rahawarin-Mukti Keliobas yang meraih nomor urut 1. Dia menilai, kinerja Rahawarin yang juga mantan Pangdam Pattimura, mantan Pangkogabwilhan III dan mantan deputi tak perlu dievaluasi. Namun ingat dia, kepemimpinan Keliobas mesti dievaluasi selama dua periode menjabat Bupati SBT, apa yang telah dilakukan.
Begitu juga kinerja Murad Ismail-Michael Wattimena, yang meraih nomor urut dua. Murad mesti dievaluasi apa yang telah dilakukan dan belum. Begitu juga Wattimena, selama terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Papua Barat, apa yang telah dilakukan.(DM-04)