Connect with us

Ragam

Book Review : Amir Sjarifoeddin Sosok Kiri Indonesia

Published

on

Dr.M.J. Latuconsina,S.IP, MA
Staf Dosen Fisipol Universitas Pattimura

“Revolusi memakan anaknya sendiri” (“La révolution dévore ses enfants”). Ungkapan ini berasal dari era Revolusi Prancis (1789). Sering dikaitkan dengan Pierre Victurnien Vergniaud atau Georges Danton, yang dieksekusi sekutu mereka sendiri (Jacobin) selama masa “Reign of Terror”. Kondisi serupa dialami Amir Sjarifoeddin Perdana Menteri Republik Indonesia (PM RI ke-2) periode 1947-1948. Ia memiliki kontribusi dalam revolusi Indonesia sebelum di proklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Hal ini dilihat dari gerakan bawah tanah, yang dilakukannya melalui jaringan perlawanan rahasia berhaluan marxis-antifasis, yang aktif melawan pendudukan Jepang (1942-1945). Hingga dinamika revolusi Indonesia, yang kemudian memakan korbannya sendiri, yang tidak lain adalah Amir Sjarifoeddin, dimana ia tewas dengan tragis didor oleh tentara atas otoritas Pemerintahan RI saat itu.


Boleh dikata Amir Sjarifoeddin memiliki latarbelakang sosial yang penuh warna-warni (plural). Ia tidak saja dikenal sebagai sosok kiri (komunis) dan sosialis Indonesia, tapi juga adalah seorang yang dahulunya di masa kanak-kanak hingga dewasa adalah penganut Islam. Hingga kemudian hari ia beralih menganut Kristen.

Namun sebenarnya Amir Sjarifoeddin tumbuh sejak awal dari orang tua “yang cinta beda agama”. Ayahnya sebelumnya adalah pemeluk Kristen yang kemudian menikahi ibunya, dan selanjutnya beralih menjadi pemeluk Islam mengikuti agama ibunya. Dari namanya kebanyakan publik akan mengira ia berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Pasalnya kebanyakan orang Makassar memiliki nama seperti ini, dimana mereka juga menggunakan dobel huruf “dd” untuk nama mereka seperti : Sjarifuddin, Amiruddin, Zainuddin, Hasanuddin, Kamaluddin, Arifuddin dan nama-nama serupa. Akan tetapi jika dilihat nama lengkapnya : Amir Sjarifoeddin Harahap bin Baginda Soripada bergelar Soetan Goenoeng Soaloan.

Tentu publik akan mengetaui ia berasal dari Sumatera Utara, bersuku Batak. Amir Sjarifoeddin lahir pada 27 April 1907 di Medan. Ia berasal dari keluarga bangsawan Batak Angkola asal Pasar Matanggor. Kakeknya, Sutan Gunung Tua, adalah seorang jaksa di Tapanuli. Ayahnya, Baginda Soripada, juga adalah seorang jaksa di Medan. Sedangkan ibunya Basoenoe boru Siregar berasal dari Sipirok, Tapanuli Selatan. Ia lahir dalam keluarga berada dan memiliki tradisi intelektual.

Dalam perkembangan sekembalinya Amir Sjarifoeddin dari Belanda ke tanah air (Hindia Belanda), ia banyak terlibat dalam diskusi di Christelijke Studenten Vereeniging op Java (CSV op Java), organisasi mahasiswa Kristen Jawa, yang dikemudian hari menjadi cikal bakal terbentuknya organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada 9 Februari 1950.

Pada CSV op Java ini banyak menginisiasi diskusi-diskusi Kekristenen terhadap masalah sosial, filsafat dan imprealisme. Adalah dosennya Prof Julius Schepper di Sekolah Tinggi Hukum Batavia, dan para misionaris lainnya seperti Kees van Doorn, yang kemudian mendorong Amir Sjarifoeddin bersama kawan-kawannya di CSV op Jawa, untuk menjadi seorang nasionalis dan memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia.

Meskipun Amir Sjarifoeddin PM RI ke-2 ini, hadir dengan identitas politik nasionalis religius. Namun ia lebih dikenal sebagai figur kiri (komunis) Indonesia. Hingga kepergiannya menghadap Sang Khalik pada 19 Desember 1948, sekitar tengah malam di kompleks makam Desa Ngaliyan, Karangayar sebagai seorang komunis setelah sebelumnya didor oleh seorang Polisi Militer (PM) yang berpangkat letnan.(Djara, 2009, Mrazek, 2025, Yasin 2020, Wikipedia 2026).


Terlepas dari itu, hadir biografi Amir Sjarifoeddin yang ditulis oleh Rudolf Mrazek, yang berjudul : “Amir Sjarifoeddin”, yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu di tahun 2025 lalu. Buku ini sebelum dialihbahasakan ke bahasa Indonesia berjudul : “Amir Sjarifoeddin : Politics and Truth in Indonesia, 1907-1948,” yang dipublis di tahun 2024 oleh Cornell University.

Torehan pena dari sejarawan modern Asia Tenggara kelahiran Ceko ini perlu dibaca. Pasalnya memaparkan sosok Amir Sjarifoeddin, seorang figur kiri (komunis) Indonesia dalam kiprahnya sejak awal hingga berlahan-lahan hadir dalam panggung perpolitikan Indonesia sebelum dan pasca kemerdekaan, dengan berbagai problematika yang dihadapinya bersama dengan para elite, kekuatan politik seperti partai politik dan angkatan bersenjata.

Biografi ini merupakan sebuah narasi historik, yang bernuansa filsafat, sastra dan ilmu pengetahuan. Pasalnya penulisnya banyak mengutip pemikiran filsuf, sastrawan dan ilmuan dalam biografi tersebut, semisal : Heidegger, Plato, Karl Marx, Jacques Derrida, David Grossman, Walter Benjamin, Joseph Louis Prous, dan masih banyak lagi ketipan serupa. Sehingga kita tidak saja disugukan dengan aktifitas sosial politik Amir Sjarifuddin, tapi juga memahami sisi pemikiran filsafat, sastra dan ilmu pengetahuan.

Titik paling krusial dari biografi Amir Sjarifuddin ini adalah Peristiwa Madiun (Madiun Affair), yang dikenal dengan Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 1948. Hal ini berawal dari jatuhnya Kabinet Amir Sjarifoeddin pada Januari 1948 sekaligus menandai awal Pembentukan Kabinet Hatta. Begitu pula pecah kongksi klik sosialis Indonesia, antara Amir Sjarifuddin dan Sutan Sjahrir, dimana Sutan Sjahrir lebih memilih bergabung dengan para pimpinan RI di ibu kota Yogyakarta.

Sedangkan Amir Sjarifuddin lebih memilih bergabung dengan klik komunis Indonesia di Madiun, yang dikenal sebagai kelompok oposisi sayap kiri, terutama Front Demokrasi Rakyat (FDR). FDR terdiri dari PKI, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), dan Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO). Hingga kemudian ia bersama kelompok oposisi berhaluan kiri tersebut di habisi tentara.

Langkah tegas ini diambil Kabinet Hatta lantaran ditengah konflik Indonesia dan Belanda melalui Agresi Militer I dan II, pihak sayap kiri melakukan manuver yang membahayakan kedaulatan republik yang masih berusia beliau kala itu. Sehingga nasib tragis pun menimpa Menteri Pertahanan RI ke-2 periode 1945-1948 tersebut. Kematian Amir Sjarifuddin sekaligus mengakhiri karir politiknya di pentas politik Indoesia.(**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *