Connect with us

Politik

Himapel KKT-Ambon : Tak Benar “Malra Raya” Bersatu Dukung Balon Gubernur Tertentu

Published

on

AMBON,DM.COM,-Saat ini masyarakat Maluku Tenggara (Malra) Raya, diklaim seolah-olah telah sepakat mendukung bakal calon Gubernur Maluku, tertentu adalah tidak benar.

Mestinya, mendukung balon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, seusai visi dan misi memperhatikan Maluku secara utuh. Bukanya, mementingkan kelompok, keluarga, kolega, dan kepentingan kesukuan tertentu.

Malra Raya, terdiri dari Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan Kabupaten Maluku Barat Daya.

“Terkait isu yang beredar bahwa seluruh masyarakat Tenggara Raya, sepakat untuk memberikan suaranya kepada salah satu balon Gubernur Maluku, itu hanya “omon-omon.” Kami tentunya memilih pemimpin yang bisa melihat seluruh masyarakat Maluku lima tahun kedepan dengan baik bukan yang hanya melihat keluarga, kerabat, dan kolega,” kata Adolf Bastian Masawunu.S.IP, Sekretaris Bidang Strategi dan Politik Himpunan Mahasiswa Pemuda Lelemuku Kabupaten Kepulauan Tanimbar Ambon Himapel KKT-Ambon, melalui keterangan tertulis yang diterima DINAMIKAMALUKU.COM, Senin (2/9/2024).

Pernyataan Adolf, sekakigus membantah terkait isu yang sedang beredar tentang Primordial dalam kontestasi pilkada di Maluku. Adolf, juga menilai bahwa gaya politik seperti itu justru akan merusak tatanan kehidupan masyarakat Maluku, yang diwariskan para leluhur terkait budaya hidup orang basudara.

“Cara politik seperti ini justru akan merusak hidup orang Basudara di Maluku akibat ego sentris yang di lakukan. Bahkan yang lebih parahnya lagi adalah menciptakan tembok dan membatasi masyarakat Maluku dalam mewujudkan perdamaian,”ingatnya.

Lebih lanjut, Adolf menuturkan, perlu adanya peningkatkan pendidikan politik kepada masyarakat yang akan menentukan pilihanya di Pilkada serentak 2024 ini. Tujuanya, agar masyarakat memilih berdasarkan visi,misi, serta kualitas yang baik dari balon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku.

“Saya berpikir pada Pilkada 2024 di Maluku ini harus ada pendidikan politik, kepada pemilih dalam menentukan pilihan berdasarkan visi dan misi serta program yang ditawarkan. Ini agar ada pengetahuan secara penuh terhadap sosok yang akan dipilih, sehingga pilihan berdasarkan hati nurani,” tuturnya.

Adolf berharap, agar pendidikan politik tersebut juga diharapkan dapat mengikis primordialisme “buta” yang kerapkali terjadi di tahun-tahun politik sebelumnya. Sehingga dapat mengingatkan agar pemilih tidak terjebak pada simbol, rasa kesukuan atau kelompok tanpa melihat visi, misi dan sosok calon tersebut.

“Jangan sekedar terjebak dengan simbol, rasa kesukuan, ataupun kelompok. Dikuatirkan, jika terpilih 5 tahun tidak maksimal membangun Maluku secara merata,” sebutnya.

Ia juga mengingatkan tentang pentingnya Masyarakat Tenggara dapat mengambil bagian dalam tahun politik ini dengan berpartisipasi menentukan hak politiknya.

“Masyarakat Maluku Tenggara mulai dari ujung Pulau Kei sampai Kabupaten Maluku Barat Daya, harus bisa memahami pentingnya politik dalam berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Tak hanya disitu, diamengharapkan kepada seluruh elemen organisasi kepemudaan agar dapat bekerjasama menciptakan Pilkada yang aman dan damai, sehingga pemimpin yang terpilih sesuai pilihan dan harapan masyarakat..

“Perlu adanya kerjasama antar organisasi kepemudaan yang ada di Maluku seperti melakukan diskusi dalam kerangka mensosialisasikan pemilu dan mencerdaskan masyarakat pemilih,” sebut Adolf.

Adolf juga mengatakan, primordialisme mempunyai dampak yang positif dalam berbangsa dan bernegara. Akan tetapi jika dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, maka hal itu bisa berbahaya bahkan mengakibatkan konflik antar suku maupun antar agama.

“Ini yang harus diantisipasi oleh semua pihak, jangan sampai merusak keragaman dan kedamaian yang sudah tercipta di Maluku ini,” tutupnya.(DM-04)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *