Connect with us

Ragam

Ironi Warga MBD Rayakan HUT RI dengan Kondisi Memprihatinkan di Atapupu NTT

Published

on

DINAMIKAMALUKU.COM, AMBON-Hari ini, bangsa Indonesia dengan suka cita merayakan hari Kemerdekaan ke-76. Ditengah hiruk pikuk bangsa ini menikmati kemerdekaan, sebagian anak bangsa belum menikmati kemerdekaan dengan baik.

Buktinya, ratusan warga Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) saat ini terlantar atau tertahan di Atapupu, Kabupaten Atambua, Provinsi Nusa Tenggara Timur, merayakan hari kemerdekaan dengan kondisi memprihatinkan.

Mereka yang awalnya urusan studi anak, belanja, berobat, dan urusan lain di Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, memilih menempuh jalan darat dari Kota Kupang ke Atapupu, selama 7 jam. Ini karena tidak ada kepastian kapal perintis dari Kota Kupang ke MBD., karena Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk pengendalian Covid-19.

Setelah mendengar Kapal Ferry Pulau Sabu, berencana berlayar ke Sejumlah Pulau di MBD yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste dan Australia, mereka menuju Atapupu. Namun, sesampainya disana, Kapal Ferry, yang diharapkan berlayar, justeru mesinya mengalami kerusakan.

Saat itu sebagian dari mereka ingin kembali ke Kota Kupang, namun kantong mereka mulai menipis. Mereka memilih tidur berdesakan di ruang tunggu pelabuhan Atapupu, yang tidak terawat.”Katong sekarang tidur di dalam rumput-rumput di ruang tunggu pelabuhan Atapupu,”Kata Hana Duparlira, salah satu warga MBD yang terlantar di Atapupu, ketika menghubungi DINAMIKAMALUKU.COM, Selasa (17/8/2021).

Iromisnya, dia juga mengaku, para warga MBD yang terlantar, rencananya mereka kembali ke Kota Kupang untuk menunggu kapal dari MBD. Namun, kesal dia, pihak Pemda Atambua meminta mereka keluar Atambua, harus Divaksin.”Kami diminta menunjukan kartu vaksin. Jangan kami dipersulit. Biarkan kami ke Kupang. Setelah itu kami vaksin disana baru menunggu kapal ke MBD,’kesalnya.

Lebih jauh dia mengatakan, mereka sudah kehabisan uang. Untuk urusan makan dan minum, Kata dia, mereka sering tahan lapar.”Katong sudah 6 hari di Atapupu. Katong makan sekarang sangat susah. Uang seng ada. Kalau uang ada bisa beli makan dan minum,”bebernya dengan logat Ambon.

Lantas, sudah ada koordinasi dari Pemda MBD untuk mendapat bantuan, dia mengaku, belum ada bantuan.”Sampai sekarang tidak ada bantuan. Kita sangat mengharapkan bantuan agar bisa bertahan hidup di sini,”harapnya.

Kendati begitu, dia mengaku, sudah menghubungi orang dekat pucuk pimpinan di bumi Kalwedo.” Saya sudah hubungi di orang dekat pucuk pimpinan di MBD tapi, sampai sekarang belum ada respon,”kesalnya.

Untuk itu, dia berharap, ditengah momentum hari bersejarah ini ada uluran tangan dari pemerintah Untuk membantu mereka makan dan minum dan segera memberangkatkan kapal untuk kembali ke daerah asalnya.”Memang ditengah kemerdekaan ini kami belum merasakan sentuhan pemerintah. Kami butuh perhatian dan bantuan dari pemerintah pusat, Provinsi dan kabupaten,”imbuhnya.(DM-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *