Connect with us

Politik

Jalan Lingkar Pulau Babar belum Terhubung, Warga Babar : Kami Hanya Dimanfaatkan !!

Published

on

DINAMIKAMALUKU.COM, AMBON-Jalan lingkar Pulau Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya, hingga kini belum tersambung. Masyarakat setempat sangat mengeluh. Benarkah mereka tidak peduli dan hanya manfatkan masyarakat setempat untuk kepentingan politik ?

Sekedar tahu, akses jalan lingkar Pulau Babar, panjangnya 101 kilo meter. Saat ini Balai Pelaksana Jalan dan Jembatan (BPJN) Maluku dan Maluku Utara, sudah memulai mengerjakan jalan Hotmix sekitar 16 kilo meter dan pembangunan dua buah jembatan dari Kota Tepa ke Desa Imroing, dan Tela. Namun, konstruksi jalan dan jembatan diduga tidak sesuai bestek karena jalan Hotmix dan jembatan tidak bagus. Sementara masih butuh sekitar 40 kilo meter jalan dan bangun sejumlah jembatan sehingga jalan dan jembatan terkoneksi dari Kota Tepa ke Letwurung, ibukota Babar Timur.

Sedangkan Dinas PUPR Maluku, saat ini mulai membangun jalan Lapisan Penetrasi (Lapen) dari Kota Tepa ke Letsiara, Manuwui, selanjutnya menelusuri sejumlah desa dan dusun menuju Letwurung, ibukota Babar Timur. Sekitar 5 kilo meter jalan Lapen yang sementara dikerjakan. Tersisah kurang lebih 50 kilo meter jalan dan sejumlah jembatan yang harus dibangun untuk menghubungkan Kota Tepa dengan Letwurung.

Jika akses jalan dari Kota Tepa ke Imroing dan Tela selanjutnya menelusuri sejumlah desa di sisi Barat Pulau Babar, jalan dan jembatan belum pernah dibangun. Namun, akses jalan mulai dari Kota Tepa ke Desa Letsiara ke Manuwui, selanjutnya menelusuri sejumlah desa dan dusun menuju Letwurung, jalan dan jembatan pernah dibangun, ketika MBD masih bergabung dengan Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (kini Kabupaten Kepulauan Tanimbar). Bahkan saat ini Babar bersama sejumlah kecamatan lainya menjadi daerah otonom baru Maluku Barat Daya (MBD).

Namun, kondisi jalan dan jembatan dari Kota Tepa ke Desa Letsiara, Desa Manuwui hingga ke Letwurung, ibukota Kecamatan Babar Timur, rusak berat. Bahkan, sejumlah jembatan yang dikerjakan sudah roboh. Diduga pembangunan jembatan asal-asalan atau tidak sesuai bestek, sehingga warga melewati ruas jalan dan jembatan di wilayah itu sering terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa.

Ironisnya lagi, ruas jalan di Noka-Noka dari Dusun Ilyawar ke Kokwari, selain rusak parah, terjadi abrasi pantai yang mulai mengikis badan jalan, sehingga butuh pembangunan talud beton bertulang untuk menahan emburan ombak. Begitu juga batu besar disisi jalan Noka-Noka, harus menjadi perhatian serius agar melalui ruas jalan tersebut dengan aman dan lancar.

Lantas, kondisi jalan dan jembatan yang memprihatinkan sudah menjadi perhatian DPRD Maluku asal Pulau Babar ? “Kami tidak tahu apakah mereka sudah perjuangkan atau belum.
Padahal mereka sering melewati ruas jalan dan jembatan,”kata Kadus Ilwyar, Thomas Dewis, ketika menemami rombongan tim Komisi III DPRD Provinsi Maluku melakukan pengawasan jalan dan jembatan didaerah itu, pekan kemarin.

Dia mengaku, warga Babar hanya dimanfaatkan ketika momentum pemilu legislatif dan Pilkada, untuk memilih mereka termasuk calon Bupati yang didukung.”Memang kami selalu dimanfaatkan. Setelah itu infrastruktur penunjang seperti jalan dan jembatan tidak diperhatikan,”kesal dia.(tim DM)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *