Connect with us

Ragam

MALUKU DIUSIA 77 TAHUN

Published

on

Oleh :
M. SALEH WATTIHELUW
(Pemerhati, Dosen Seinior STIA SP Masohi)

SATU eksplorasi pemikiran penulis yang dikemas dan ditulis dengan pendekatan kualitatif, bertajuk Maluku diusai 77 tahun, sebagai wujud ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Perjalanan selama 77 tahun sejak Orde Lama, Orde Baru hingga Orde Reformasi Provinsi Maluku masih terhimpit dengan berbagai kekurangan, sebut saja problema sosial ekonomi, kemiskinanan, pengangguran, kesempatan kerja, sarana infra struktur jalan jembatan, kesehatan dan pendidikan. Fakta-fakta sosial sosial ekonomi ini menjadi perbincangan publik, padahal Maluku memiliki potensi kekayaan sumber daya alam (SDA) sangat kaya.

Dalam rentang waktu tujuh puluh tujuh tahun Provinsi Maluku tepat tgl 19 memperingati HUT Provinsi Maluku. Meskipun sudah di usia 77 tahun namun dinamika pembangunan daerah belum ada korelasi yang berarti, hal ini ditandai dengan wajah Maluku masih KETERTINGGALAN jika disandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia atau minimal dengan provinsi tetangga.

APA PENYEBAB MALUKU TERTINGGAL.

Meskipun belum ada studi pembuktian secara akademik dan ilmiah tentang apa faktor-faktor penyebab ketertinggalan Provinsi Maluku, akan tetapi jika dirunut dan diasumsikan maka kita akan ketemu beberapa faktor penyebab sering ditulis para akademisi, jika disebutkan secara kualitatif antara lain; faktor natural/alam dan non natural/alam. Faktor alam adalah Maluku banyak pulau, luas wilayah laut, rentang kendali dan luas wilayah darat kecil.

Sementara faktor non natural/alam misalnya posisi tawar lemah, anggota DPR RI hanya 4 orang, terimbas regulasi dan kebijakan Pemerintah Pusat dibidang politik, ekonomi, Pemerintah Daerah/Kab/Kota belum mampu “membuat perencanaan pembanguan yang komprehensif berkesinambungan” untuk mengekspolasi potensi SDA dan pemanpaatan secara maksimal, APBD rendah, kintribusi BUMD-BUMD relatif sangat kecil bahkan masih nihil, serta faktor perilaku masyarakat Maluku cendrung bersikap menang-menangan, dan cendrung mencari posisi aman, mau terima apa adanya artinya kesan pasrah saja.

Memang tidak mudah membangun satu prov berciri kepulauan, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi sejak tahun 2003 dimasa Gubernur.Karel Albert Ralahàlu, beberapa gagasan besar antara lain permbentukan Forum Delapan Prov melahirkan konsep gagasan RUU Prov Kepulauan, (jadi RUU Daerah Kepulauan) Rencana Pemekaran CDOB, Sail Banda sebagai embrio lahirnya LIN

Pemerintah Daerah dimasa sebelumnya dan Pemerintah Daerah sekarang lebih aktif merespon janji Presiden soal LIN -ANP semuanya bertujuan untuk mendongkrat percepatan pembangunan Maluku akan tetapi hasilnya belum sesuai dengan harapan masyarakat mungkin Pemerintah Pusat masih memiliki pertimbangan-pertimbangan lain. Sesunguhnya dalam perjuangan suatu gagasan/konsep besar harus didukung secara kolektif oleh semua pemangku kepentingan, sehingga menjadi tanggungjawab bersama.

TANTANGAN DAN SOLUSI

Ketikà Gubernur MI & Wakil Gub BO dilantik pada tanggal 24 April 2019 di Istana Negara, adalah satu momentum dan harapan baru bagi Masyarakat agar Maluku lebih baik. Harapan ini karena tertuang dalam visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur untuk membangun Maluku lima tahun kedepan.

Kita harus jujur untuk mengatakan secara objektif kepada publik bahwa Gub MI & Wakil Gub BO, memulai menata dan membangun Maluku tahun 2019 dengan APBD yang telah ditetapkan pada Gubernur sebelumnya. Berbagai tantangan yang dihadapi pertama, situasi Maluku pada tahun 2019 dihadapkan dengan Gempa Bumi, kedua berlanjut dengan Musibah kemanusian yaitu Pandemi Covid19, sehingga pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah harus dihadapkan pada kebijakan pemangkasan Anggaran sebagai upaya penyelesaian dampak akibat gempa dan Pandemi Covid.

Mengutip pesan Gubernur MI dalam pidato HUT Provinsi tgl 19 Agustus 2022 ” Krisis kesehatan karena pandemi Covid 19 diikuti dengan krisis ekonomi membuat ketahanan masyarakat di Maluku semakin kuat”
” Selaku pimpinan daerah menghadapi berbagai krisis mesti saling bekerjasama dan saling tolong menolong. Pentingnya koordinasi menjadi kunci kesuksesan di Maluku dimana tahun 2022 dirayakan dengan thema, Baku Gandeng Maluku Bisa kita bangun Maluku” ujar Murad Ismail,Jumad (19/8/2022) MR.Com

SOLUSI

Dalam upaya pemulihan ekonomi maka Gubernur atas nama Pemerintah Daerah, berupaya Pinjam dana Rp 700 M dari SMI upaya ini dapat dilihat sebagai satu solusi. Pinjaman bertujuan untuk menutup devisit anggaran, meskipun DPRD terkesan tidak tahu, mungkin karena kondisi emergensi, adalah suatu konsekwensi yang harus kita diterima. Sesungguhnya Pemerintah daerah Pinjaman tidak ada masalaah sepanjang prosudural dan pemanfaatan untuk kemajuan daerah dan mampu mendorong aktivitas perekonomian.

Dampaknya adalah ada capaian kemajuan Pembangunan daerah dapat ditandai dengan pertumbuhan ekonomi meningkat dan diharapkan berdampak jangka panjang. Dampak dari pertumbuhan ekonomi adalah angka kemiskinan menurun, pengangguran menurun. Meskipun angka kemiskinan menurun akan tetapi masih tetap menjadi isu hangat untuk Maluku dan masih tetap di nomor urut ke 4 Indonesia.

Solusi berikut adalah disisa waktu 2 tahun kedepan diharapkan Pemda & DPRD harus fokus dan selalu berikhtiar dalam alokasi anggaran APBD pada program-program pemberdayaan disektor kemakmuran, dengan prinsif efisiensi, kehati-hatian, didukung dengan kebijakan yang terukur, pengawasan yang maksimal.

Dan solusi lain adalah diharapkan Pemda harus berupaya bersama Pemda Kab/Kota untuk menekan angka kemiskinan minimal hingga 12% karena angka kemiskinan Maluku adalah angka kumulatif. Sementara pertumbuhan ekonomi diupayakan tumbuh diatas 5%. Selain itu Pemda dan DPRD berusaha semaksimal merealisasikan janji Presiden soal Program Strategi Nasional LIN-ANP yang nasibnya juga belum jelas hingga kini karena belum ada penjelasan dari Pemda Provinsi. Dirgahayu NKRI, dirgahayu Provinsi Maluku. (**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *