Connect with us

Ragam

Mengenang Abdul Jalil Latuconsina Tokoh Petisi 50 Asal Pulau Haruku

Published

on

DINAMIKAMALUKU.COM, AMBON-
Salah satu tokoh pergerakan sekaligus anggota Petisi 50, Abdul Jalil Latuconsina, meninggal dunia di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Jumat (25/06/2021).

Jalil yang biasa disapa Abah Jenggot, menghembuskan nafas terakhir diusia 68 tahun akibat sakit komplikasi yang dialaminya selama dua tahun terakhir.

“Beliau wafat pukul 12.20 WIB, usai shalat Jumat, ” kata Ruswan Latuconsina, keluarga Jalil, ketika dihubungi DINAMIKAMALUKU.COM, Jumat (25/6/2021)

Sekedar tahu, di dunia pergerakan dan aktivis era 70 an, Jalil dikenal sebagai sosok idealis dan berani sekaligus independen.

Putra Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah itu, sudah puluhan tahun menetap di Surabaya merupakan salah satu aktivis mahasiswa angkatan ’78 yang getol mengkritisi jaman Orde Baru saat kepemimpinan Soeharto.

Jalil bersama beberapa rekan aktivis kala itu seperti Choirul Anam (Mantan Ketua DPP PKNU) dan Ali Maschan Moesa (mantan Ketua PWNU Jatim) memimpin para mahasiswa di Jawa Timur untuk menentang Seoharto dan rezimnya yang terus melanggengkan kekuasaannya.

Akibat terlalu berani dan kritis menentang penguasa Orde Baru, Jalil pun sempat merasakan hidup dalam bui.

Setelah bebas dari penjara, Jalil bukannya takut, justru ia kembaki turun jalan memimpin demonstrasi mahasiswa.

Karena sepak terjangnya melawan pemerintah Orde Baru itu, Jalil kemudian dimasukkan sebagai anggota termuda Petisi 50 yang diprakarsai Ali Sadikin dan Jendral AH Nasution.

Petisi 50 merupakan adalah sebuah naskah deklarasi para aktivis yang isinya memprotes penggunaan Pancasila oleh Presiden Soeharto untuk membungkam mereka yang kritis.

Petisi yang ditanda tangani oleh 50 orang tokoh terkemuka Indonesia, seperti mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal TNI AH Nasution, Mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso, mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, mantan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan Muhammad Natsir serta termasuk Abdul Jalil Latuconsina ini diterbitkan pada 5 Mei 1980 di Jakarta.

Petis ini, diterbitkan sebagai ungkapan keprihatinan terhadap kondisi politik saat itu.

Para penandatangan petisi ini menyatakan bahwa Presiden telah menganggap dirinya sebagai pengejawantahan Pancasila; bahwa Soeharto menganggap setiap kritik terhadap dirinya sebagai kritik terhadap ideologi negara Pancasila. Soeharto menggunakan Pancasila ‘sebagai alat untuk mengancam musuh-musuh politiknya’.

Dalam Petisi 50 itu, Jalil tercatat menjadi anggota termuda dan satu-satunya penanda tangan dari Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Meski namanya cukup dikenal di dunia politik dan aktivis, Jalil hingga akhir hayatnya tidak pernah menjadi anggota partai politik. Meski ia pernah mencalonkan sebagai anggota DPD RI pada Pemilu 2004.

Jalil yang juga pemimpin redaksi Sapu Jagat, dikenal sebagai sosok yang independen, punya tekad dan keberanian yang besar. Jalil Latuconsina sempat pula terjun ke dunia bisnis di akhir 1980-an sampai 1990-an. Bahkan di tahun 1994, ia terpilih untuk memimpin HIPMI Surabaya. Tapi kemudian dunia itu ia tinggalkan, setelah pada tahun 2000 terjun ke dunia pers dengan menerbitkan Tabloid Sapujagat yang sangat kental dengan karakter pribadinya yang idealis, independen dan berani.(DM-02).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *