Ragam
Puasa Praktik Spritual Universal
Dr.M.J. Latuconsina,S.IP, MA
Staf Dosen Fisipol Universitas Pattimura
Setiap tahun sesuai dengan kalender Hijriah (sistem penanggalan Islam-kalender Qamariyah, yang didasarkan pada siklus peredaran bulan, terdiri dari 12 bulan dengan 354-355 hari per tahun), umat Islam begitu antusias menyambut puasa, yang biasanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Sehingga kerap disebut dengan bulan suci Ramadhan.
Antusiasme tersebut ditunjukan dengan membersihkan rumah pribadi, kompleks tempat tinggal warga, hingga membenahi tempat ibadah seperti : masjid, dan musholah (surau, langgar). Begitu pula menyediakan bahan bakar minyak (BBM), seperti : minyak tanah, gas dan yang tradsional nun jauh di pelosok pedesaan menyediakan kayu bakar. Hal ini diikuti dengan penyediaan pangan untuk keperluan ibadah puasa, baik untuk berbuka dan sahur.
Malam harinya sejak waktu sholat magrib, isya dan sholat tarawih tempat-tempat ibadah tersebut dipenuhi warga. Begitu pula waktu sholat lainnya seperti : subuh, dzuhur dan sholat ashar juga dipenuhi warga, serta sholat Jumad dalam kondisi serupa. Ada juga ceramah yang dilakukan ustad sebelum dilaksanakan sholat tarawih, yang menarik perhatian jamaah yang hadir.
Tidak sebatas itu saja, tapi umat Islam juga melakukan tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, serta memperbanyak sedekah, berbagi takjil dan perbuatan-perbuatan baik lainnya yang dikategorikan sebagai ibadah. Hal ini merupakan implementasi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, yang populer dengan istilah fastabiqul khairat.
Tentang berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), bersumber dari Al-Qur’an khusunua pada Surat Al-Baqarah: 148 dan Surat Al-Ma’idah: 48). Dimana memerintahkan umat Islam untuk bersegera, bersaing sehat, dan produktif dalam melakukan amal shaleh dan ketaatan kepada Allah.
Dalam konteks puasa di bulan Ramadhan merupakan sesuatu yang penting. Pasalnya umat Islam menjadikan bulan Ramadhan sangat istimewa dan paling baik untuk menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan. Hal ini menjadi salah satu keutamaan di bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan adalah waktu yang baik untuk mengambil kesempatan untuk bertaubat kepada Allah SWT.
Pengertian puasa secara etimologis berasal dari kata “as-shaum”, yang secara harfiah berarti menahan diri dari melakukan suatu tindakan. Namun, menurut ajaran agama Islam, puasa merujuk pada menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan diiringi niat dan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Dengan demikian, puasa juga berarti menahan diri dari makan dan minum, mengendalikan hawa nafsu, serta menahan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna atau yang dilarang oleh Allah SWT. Ini juga termasuk dalam konteks puasa adalah menghindari memasukkan substansi fisik apapun ke dalam tubuh, termasuk minum obat dan sejenisnya.(Firdaus 2022, At Takwa, Baznas 2024).
Terlepas dari itu, puasa tidak saja dijalankan oleh umat Islam, tapi juga dijalankan oleh umat beragama lain seperti : Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Jainisme, dan Taoisme. Oleh karena itu, puasa merupakan praktik spritual yang universal. Dimana, baik itu rumpun agama Samawi (langit) dan rumpun agama Ardi (bumi) sama-sama melaksanakan puasa.
Pernah saya membaca biografi istri Wakil Bupati di salah satu daerah di Maluku. Ia seorang Protestan, dalam perjalanannya ke Banda Naira menggunakan kapal laut berbody kayu, ia tetap menjalani puasa meskipun kondisi laut tak bersahabat, yang membuat perutnya berguncang akibat mabuk laut. Dari kisah itu, saya tidak hanya mendengar umat Kristen melakukan puasa saja, tapi rill dilaksanakan. Berikut beberapa agama melaksanakan puasa, yang dikutip dari Fakta Kalteng (2025).
Kristen, di agama Kristen puasa merupakan bagian penting dari ibadah, terutama dalam tradisi Katolik, Ortodoks, dan beberapa kelompok Protestan. a) Puasa Prapaskah (Lent), berlangsung 40 hari sebelum Paskah, umat Kristen, terutama Katolik dan Ortodoks mengurangi konsumsi makanan tertentu, seperti daging. b) Puasa Jumat Agung, umat Kristen menjalankan puasa pada hari Jumat Agung untuk mengenang penderitaan Yesus Kristus sebelum disalibkan. Puasa dalam Tradisi Ortodoks Timur memiliki banyak hari puasa dalam setahun, termasuk puasa Natal dan puasa Maria.
Yahudi, di agama Yahudi, puasa dilakukan sebagai bentuk pertobatan dan refleksi spiritual. a) Yom Kippur, hari paling suci dalam agama Yahudi, mereka puasa selama 25 jam penuh tanpa makanan dan minuman sebagai bentuk penebusan dosa. b)Tisha B’Av, hari berkabung memperingati kehancuran dua Bait Suci di Yerusalem, juga dijalani dengan puasa penuh. c) Puasa Senin-Kamis: Beberapa komunitas Yahudi Ortodoks juga menjalankan puasa pada hari Senin dan Kamis sebagai bentuk ibadah.
Hindu, diagama Hindu puasa disebut a) Upavasa dan dilakukan dengan berbagai bentuk tergantung pada sekte dan kepercayaan individu. b) Ekadashi, puasa yang dilakukan dua kali dalam sebulan pada hari ke-11 kalender lunar, umat Hindu menghindari makanan berat atau berpuasa penuh. c) Navaratri, perayaan sembilan hari untuk memuja Dewi Durga, sebagian umat Hindu berpuasa dengan hanya mengonsumsi makanan tertentu. d) Maha Shivaratri, Puasa khusus yang dilakukan untuk menghormati Dewa Siwa.
Buddha, puasa dilakukan sebagai bentuk latihan spiritual dan disiplin diri. a) Uposatha, Hari suci dalam kalender Buddha di mana umat dianjurkan untuk berpuasa dari tengah hari hingga matahari terbit keesokan harinya. b) Puasa Para Bhikkhu (Biksu), Biksu dan biksuni dalam tradisi Theravada tidak makan setelah tengah hari hingga keesokan harinya sebagai bentuk pengendalian diri.
Jainisme, merupakan agama yang sangat menekankan konsep non-kekerasan (ahimsa) dan pengendalian diri, termasuk dalam praktik puasa. a) Paryushana, periode delapan hingga sepuluh hari di mana umat Jain berpuasa penuh atau membatasi makanan untuk meningkatkan kesadaran spiritual. b) Santhara, puasa ekstrem yang dilakukan oleh beberapa penganut Jainisme di akhir hayat mereka sebagai bentuk pelepasan dari dunia materi.
Taoisme, di ajaran Taoisme, puasa dilakukan untuk membersihkan tubuh, pikiran dan meningkatkan hubungan dengan energi alam semesta. a) Puasa sebagai bagian dari meditasi, berapa penganut Taoisme menjalani puasa sebagai bagian dari latihan spiritual untuk meningkatkan energi dalam tubuh. b) Pantangan makanan tertentu, dalam beberapa ritual Taoisme, puasa dilakukan dengan menghindari makanan tertentu seperti daging dan bawang-bawangan.
Meskipun tujuan dan tata cara dari puasa yang dilaksanakan pada agama-agama tersebut satu sama lainnya berbeda-beda. Namun inti dari pelaksanaan puasa dalam berbagai tradisi agana-agama tersebut sering kali berkaitan dengan penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, dan pendekatan spiritual kepada Tuhan. Oleh karena itu, tak salah jika puasa dikatakan sebagai praktik spitual yang universal, dimana dilaksanakan oleh sejumlah agama.(**)