Connect with us

Ragam

Tokoh Muda Ini Kuatir “Skenario”  Blok Masela Rugikan Maluku

Published

on

DINAMIKAMALUKU.COM. AMBON-
Teka-teki pengelolaan Lapangan Gas Abadi, Blok Masela sampai sekarang belum terpecahkan. Nasib pengembangan proyek gas raksasa ini bahkan menyerupai sebuah drama yang selalu berubah alur cerita di setiap episode pertunjukan.

Melihat adegan pertunjukan yang penuh klise serta menjemukan karena mudah ketebak kemana alur cerita akan bertuju, membuat para penikmat pertunjukan terpaksa harus melempar interupsi.


Kali ini interupsi bernada sinis datang dari seorang tokoh politik asal Maluku, Freni Lutruntuhluy. Ia dengan nada blak-blakan menyentil drama Blok Masela sebaiknya sudah harus diakhiri, menimbang alurnya yang sudah tak menarik lagi untuk ditonton.


Ketgam : Fren i Lutruntuhluy, S.Pd mengambil peran dalam komunikasi persiapan era digital di Provinsi Papua bersama Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang (Bupati pegunungan Bintang Spei Yan Bidana/ kiri)

“Boleh dibilang ini drama yang sudah hampir ditebak setiap alur ceritanya. Barangkali itulah yang jadi alasan mengapa serial pertunjukan Blok Masela ini sudah waktunya diberi Titik (disudahi). Sebab, jika ini terus diputar, khawatir tak sedikit yang akan interupsi bahkan saling lempar kursi,” ujarnya kepada DINAMIKAMALUKU.COM, Jumat (7/1/2022)

Wartawan senior itu menilai, Blok Masela merupakan sumber gas raksasa yang jika dikelola dengan benar akan berkontribusi besar, tidak hanya kepada negara, tapi juga bagi masyarakat sekitarnya.

“Karena seperti yang kita tahu, ini proyek strategis. Kandungan gas di dalamnya bukan main-main. Tapi siapa yang menjamin ini akan terurus dengan benar, jika saja hari ini banyak dinamika yang menyertai pengelolaan sumber daya strategis ini penuh drama dan intrik?” tukas Freni.

Putra Kabupaten Maluku Barat Daya ini mempersoalkan sikap tidak komit beberapa perusahaan asing yang sebelumnya menyatakan siap berinvestasi di lumbung gas nasional tersebut. Namun, sikap mendadak yang membuat investor itu angkat kaki sebelum waktunya beroperasi merupakan keputusan negatif yang tentu merugikan Indonesia.

“Terus terang, kita patut kecewa atas sikap sejumlah perusahaan asing sebut saja ConocoPhilips Indonesia Holding Ltd dan yang terbaru Shell Upstream Overseas Services Limited (Shell) anak usaha dari Royal Dutch Shell yang sampai kini masih belum mendapatkan investor pengganti atau pembeli hak partisipasi sebesar 35% miliknya,” ujarnya.

Freni menilai hengkangnya sejumlah investor dari eksploitasi Blok Masela merupakan imbas dari kebijakan pemerintah yang berani mengubah skema pengelolaan gas dari offshore (di laut) menjadi di darat (onshore).

“Tentu alasan hengkangnya sejumlah perusahaan asing itu akibat dari keputusan pemerintah yang memilih aset Liquifed Natural Gas (LNG) dibangun di onshore atau darat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku dari sebelumnya offshore,” ucapnya.

Di samping itu, lanjut dia, syarat green energy sebagai rencana pengembangan atau Plant of Development (PoD) di Blok Masela yang mensyaratkan agar dimasukkannya fasilitas penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon atau akrab disebut CCUS dinilai memberatkan investor.

“Seperti kita tahu, Lapangan 

Abadi sendiri memiliki nilai investasi sebesar US$ 19,8 miliar, yang ditargetkan memproduksi sebanyak 1.600 juta kaki kubik per hari (mmscfd) gas atau setara 9,5 juta ton LNG per tahun (mtpa) dan gas pipa 150 mmscfd serta 35.000 barel minyak per hari,” ungkapnya.

“Namun, pemerintah meminta untuk mengubah rencana pengembangan LNG dari yang sebelumnya di laut menjadi ke darat membuat investasi LNG Masela menjadi bengkak atau saat ini ditetapkan mencapai US$ 19,8 miliar. Sementara jika di laut diperkirakan investasinya mencapai US$ 14 – US$ 15 miliar,” sambungnya.

Atas pertimbangan itu, kata Freni, perusahaan asing yang semula berminat menanamkan sahamnya di proyek migas Blok Masela menjadi berhitung ulang. Dan keputusannya, mereka memilih hengkang karena menganggap kost yang dikeluarkan cukup besar jika mengikuti skema onshore yang disepakati sekarang.

Freni melihat, dilema ini harus segera dicarikan jalan keluar agar negara ini tidak tersungkur dalam kubangan hitam lantaran harus tunduk pada diktum korporasi global yang menepikan kepentingan nasional.

“Negara harus menunjukkan wibawanya di hadapan korporasi asing. Bahwa kita juga punya kepentingan untuk kesejahteraan warga negara. Jangan sampai negara takluk terhadap diktum kepentingan elit global yang membuat kepentingan dalam negeri tergadaikan,” pungkasnya.(DM-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *