Connect with us

Hukum

Warga Elat & Bombay Bentrok, Koedoeboen : Bupati Malra Harus Bertangungjawab

Published

on

AMBON, DM.COM,-Warga Elat dan Bombay, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), tercatat sudah beberapa kali bentrok. Bentrok antar warga yang sering terjadi di daerah itu menandakan Bupati Malra, Thaher Hanubun, kurang tanggap dan responsif  memimpin daerah itu. Karenanya, dia diminta pertanggungjawaban sang Bupati.

Demikian disampaikan salah satu tokoh masyarakat Kei di Jakarta Dr. H. Dajamaludin Koedoeboen. SH. MH, lewat rilis yang diterima DINAMIKAMALUKU.COM, Senin (14/11/2022). Soal bentrok  antara warga Elat dan Bombay, yang kembali terjadi, dia menyampaikan penyesalan yang mendalam terhadap Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, dibawah kepemimpinan  Bupati Malra.

Menurut dia, Bupati  Malra,  sangat lamban dan kurangnya responsibilitas  serta kepekaan, dan rasa “Sanse Of Belonging” terhadap masyarakat di kedua desa tersebut.”Ini  dikarenakan kurang tanggap dan cepat dalam mengatasi serta  menyelesaikan permasalahan  antar kelompok ini,  yang pada akhirnya telah berkembang. Padahal bila ada keseriusan dan ketulusan hati yang ditunjukan pemerintah daerah, maka bentrok  ini pasti dapat teratasi dengan baik,”ingatnya.

Apalagi, ingat Koedoeboen yang juga praktis hukum ini, kejadian perselisihan di dua desa itu sudah berlangsung lama, hampir kurang lebih dua bulan.”Semestinya Bupati Malra, jangan ego dan main solo dalam setiap momentum  yang terjadi di daerah. Memang   sifat dan karakter seperti itu yang memberi kesan pencitraan semata di masyarakat, terhadap apa yang dipertontonkan beliau selama ini. Khan  beliau punya banyak perangkat di daerah, ada Wakil Bupati, Sekda, Camat dan instrumen ASN lainya,”ingatnya.

Bahkan, kata dia, sampai ke desa desa, belum lagi unsur Forkopimda,  membantu meredam dan menyelesaikan kejadian yang dialami masyarakat di dua desa tersebut.”Tapi,  saat ini  tidak ada antisipasi dari pemerintah daerah dan pihak keamanan, sehingga telah menimbulkan korban nyawa, “kesalnya.

Mestinya, ingat dia, akar permasalahan ini dari awal sudah diidentifikasi dan bahkan masyarakat di kedua desa tersebut telah menyampaikan aspirasi dan harapan mereka, kepada pemerintah daerah dan pihak aparat keamanan.”Mereka  meminta pihak Kepolisian agar segera menangkap para pelaku yang diduga sebagai otak intelektual dan atau yang memprovokasi sehingga timbulnya insiden itu, “bebernya.

Koedoeboen  juga menuturkan bahwa pimpinan dan anggota DPRD Malra juga telah mendatangi dan melakukan pertemuan di dua desa tersebut untuk menyerap aspirasi masyarakat serta mengurai permasalahan apa yang menjadi pemicu, sehingga dapat terjadi pertikaian dimaksud.”Kalau saya tidak salah dengar, sudah disampaikan oleh pimpinan DPRD Malra kepada Bupati dan Kapolres Malra, agar segera ditindaklanjuti aspirasi masyarakat di dua desa tersebut, “paparnyam

Namun, kesal dia, rekomendasi itu tidak ditindak lanjuti dengan baik dan tuntas.”Ini berarti seolah memberi kesan kepada masyarakat bahwa patut diduga saudara Bupati secara sengaja dan sadar telah melakukan pembiaran terhadap permasalahan ini, sehingga kini telah mengakibatkan jatuh korban dan pembakaran rumah serta harta benda lainya, “tudinhnya.

Untuk itu, dia menghimbau kepada seluruh masyarakat di dua desa tersebut agar dapat menahan diri, dan tidak terprovokasi lagi dengan isu- isu liar yang berkembang. Bahkan, dia  menghimbau kepada semua unsur, dalam hal ini, Forkopimda dan elemen masyarakat lainya secara serius dan tegas dapat menyelasaikan masalah tersebut secara tuntas.

“Menangkap para pelaku bentrok dan pengrusakan dan pembakaran sejumlah rumah dan fasilitas di dua desa itu agar menunjukan komitmen dan keseriusan aparat dalam hal ini,”pintanya.

Dia juga meminta pimpinan dan anggota DPRD Malra agar mengundang Bupati  dan meminta pertanggungjawabanya selaku Kepala Daerah terhadap kejadian yang telah memakan korban itu. Koedoeboen yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kerukunan Keluarga Besar Masyarakat Maluku (DPP-KKBMM) di Jakarta itu, juga menghimbau agar masyarakat di dua desa tersebut dapat menahan diri, dan masyarakat di desa-desa lain tidak ikut  menyulut atau menjadi bagian dari pertikaian yang terjadi.

“Kita semua orang basudara dengan Fangnanan Ain Ni Ain yang sudah menjadi falsafah hidup para leluhur Kei sejak dulu hingga sekarang, Insya Allah masalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Apalagi basudara kita nasrani akan memasuki perayaan Natal Kristus, sehingga diharapkan semua pihak wajib menghargai dan menghormati momentum itu, dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupanya sehari hari, “ajaknya.

Koedoeboen  yang juga Vice Presiden Kongres Advokat Indonesia itu menambahkan,  bahwa peran tokoh agama seperti pastor, pendeta dan ulama dan tokoh masyarakat, para raja serta tokoh pemuda dan tokoh perempuan dihimbau pula untuk mengambil peran masing – masing dalam upaya mendamaikan warga yang lagi tersulut amarah.

“Ini karena tidak ada pertikaian atau peperangan yang mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan melainkan sebaliknya, yang didapati hanyalah penderitaan dan air mata, karena setiap penyesalan itu selalu datang belakangan, ditambah lagi bahwa dikehidupan kita yang sudah serba susah ini jangan diperparah lagi  dengan beban beban yang lain, karena kita semua punya tanggungjawab untuk menghadirkan keamanan dan kenyamanan di wilayah kita tercinta,”imbuhnya.

Untuk itu, harap dia,  para generasi muda  mesti belajar kebaikan dan ketulusan sebagai bekal  dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.”Memang kalau saya amati selama ini ada indikasi dimana Bupati dalam beberapa kebijakanya menimbulkan bentrok dan perkelahian di tengah masyarakat, sampai-sampai ada masyarakat desa tertentu yang meninggalakan kampung halamanya, namun belum terselesaikan permasalahan mereka oleh Bupati selaku Kepala Daerah, “tandasnya.

Bahkan, dia menuding, masih banyak lagi contoh kasus kasus lainya, walaupun pada akhirnya beberapa permasalahan tersebut bisa diselesaikan dengan baik, akan tetapi itu bukan peran Bupati, namun peran pimpinan dan anggota DPRD setempat, bersama unsur Forkopimda lainya.

“Ini yang sangat mengecewakan bagi kita, sebagai anak negri kita sangat sedih sekali dengan keadaan seperti ini, ditambahkan pula kepada basudara semua di kepulauan Kei dan khususnya yang terkena musibah bentrok antar desa itu kiranya bersabar dan masing masing berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kiranya dibukakan hati dan pikiran baik kita. Tujuanya, agar kita jaga dan rawat persatuan dan persaudaraan,  karena hanya itulah harta yang paling berharga untuk dipersembahkan kepada anak cucu kita kelak,”pungkasnya.(DM-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *