Connect with us

Unpatti

Guru Besar FISIP Unpatti : Ambon Smart City Butuh Kepercayaan Publik

Published

on

AMBON,DM.COM,- Guru Besar Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pattimura (Unpatti) Prof. Jusuf Madubun, menjelaskan Smart City bukan sekadar kota yang menggunakan teknologi cerdas.

Namun, Ambon Smart City, adalah kota yang mampu mengubah data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi keputusan, keputusan menjadi pelayanan, dan pelayanan menjadi kepercayaan publik.

Menurut Madubun, Ambon Smart City tidak cukup dibangun dengan teknologi, karena itu Transformasi birokrasi digital Kota Ambon, harus memperkuat kapasitas dan budaya birokrasi yang berakar pada nilai dan kearifan loka Ambon dan Maluku.

“Birokrasi digital bukan tujuan akhir, tetapi yang dibutuhkan adalah transformasi dari Birokrasi Konvensional, ke Digital, dan Terintegrasi, Data-Driven, menuju Kota Cerdas yang Citizen-Centered,”tandas Madubun, Jumat (21/8/2026).

Ini setelah mantan Wakil Rektor Unpatti itu menjadi Knote Speaker Focus Group Discussion (FGD) Ambon Smart City di Balaikota Ambon, Kamis (20/8/2026).

FGD digelar, setelah universitas Katolik (UNIKA) Soegijapratama – Semarang, menggandeng Universitas Pattimura (Unpatti) menggelar Focus Grup Discusion (FGD) terkait penelitian berjudul “Peran Teori Komunikasi Massa dan Transformasi Birokrasi Digital Dalam Membangun Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Smart City di Kota Ambon”.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon lewat Dinas Kominfo dan Persandian, dilaksanakan Kamis (20/8/26) di Ruang Vlissingen Balai Kota, dan dibuka secara resmi oleh kepala Dinas, Ronald H. Lekransy yang juga sebagai salah satu keynote speaker.

Lekransy dalam paparannya tentang Ambon Smart City menjelaskan berbagai permasalahan yang dihadapi di kota Ambon antara lain kepadatan penduduk yang tinggi, pelayanan Kesehatan yang overload, tata ruang yang buruk, persoalan sampah dan kemacetan, hingga integrasi layanan digital antar OPD masih lemah.

Guna menjawab semua permasalahan tersebut, maka Pemkot Ambon dalam pengembangan Smart City bukan sekadar membangun aplikasi, tetapi bagaimana mewujudkan perubahan tata kelola pemerintahan dengan memanfaatkan teknologi.

“Implementasinya melalui tahapan seleksi, perencanaan, implementasi, evaluasi dan transformasi, dengan prinsip Technology, Governance , Data , People, Sustainability,” ujarnya.

Lebih jauh Kepala Dinas Kominfo ungkapkan, Program Ambon Smart City yang telah dimulai sejak 2017 hingga saat ini mencakup enam dimensi utama yakni Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society serta Smart Environment.

Pada tahun 2025, Kota Ambon masuk sebagai 10 besar Kota yang dievaluasi secara nasional dan berdasarkan hasil evaluasi Smart City tersebut Kota Ambon mendapatkan nilai 3,6 (skala 4).

“Ini menjadi motivasi untuk terus meningkatakan pelayanan publik berbasis teknologi,” imbuhnya.

Lekransy menegaskan Ambon Smart City diarahkan menjadi model transformasi tata kelola pemerintahan berbasis teknologi, data, SDM, pelayanan publik, dan keberlanjutan.

“Enam dimensi Smart City menjadi kerangka untuk mengintegrasikan berbagai program OPD sehingga teknologi tidak berhenti pada aplikasi, tetapi menghasilkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, aman, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” bebernya.(DM-04)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *