Connect with us

Ragam

Book Review, Perburuan

Published

on

Oleh : Dr. M.J. Latuconsina, S.IP, MA
Staf Dosen Fisipol, Universitas Pattimura

“Masa lalu adalah cermin diri untuk berbuat lebih baik”. Kata-kata ini merupakan qoutes Aleksei Maksimovich Peshkov (1868–1936), yang populer dengan nama pena Maxim Gorky, seorang penulis berkebangsaan Rusia, pendiri metode sastra realisme sosialis. Diksi masa lalu pada awa qoutes penulis beraliran kiri (komunisme) tersebut, relevan dengan novel karya Pramoedya Ananta Toer, yang juga merupakan seorang sastarawan yang berafiliasi dengan kaum kiri Indonesia pada zamannya.

Pasalnya novel dengan judul : Perburuan, yang diterbitkan Hasta Mitra, cetakan   keempat, pada Januari 2002 tersebut mengambil setting masa lalu, yang tak lain pada era pendudukan tentara Kekaisaran Jepang, di seputaran Pulau Jawa bagian timur (Oost-Java). Karya sastranya ini dituliskannya justru tatkala ia mendekam di Penjara Bukit Duri Jakarta pada Mei 1949.


Tidak hanya novel ini yang ditulisnya, saat ia di tahan di penjara oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun juga terdapat tiga karya sastra legendaris lainnya, dalam bentuk novel dan cerita pendek, yakni : Keluarga Gerilja, Cerita Dari Blora, dan Subuh. Pram sosok yang luar biasa, dimana kebanyakan karya-karya sastra legendarisnya, justru lahir saat ia tengah mendekam di penjara.

Ketika Pram menjadi tahanan politik (tapol) Pemerintah Orde Baru di Pulau Buru pada 13 Oktober 1965, lantaran afiliasinya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), yang tersuboordinasi dibawah Partai Komunis Indonesia (PKI), ia menuliskan novel yang dikenal sebagai Tetralogi Buru. Merupakan empat novel sejarah mengisahkan kebangkitan nasional Indonesia melalui tokoh Minke, yang terinspirasi Tirto Adhi Soerjo, tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, Nndiantaranya : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Selanjutnya terdapat juga karya Pram lainnya, yang turut ditulisnya tatakala menjadi buangan politik di Bumi Bupolo yakni : Arus Balik, Mangir, Arok Dedes, Ensiklopedi Citra Indonesia, dan Mata Pusaran. Kebanyakan karya-karya Pram tersebut, dituliskan di tengah-tengah keterbatasan, dan pengawasan yang ketat dari tantara.

Untuk menarasikan karya-karyanya tersebut, kadang Pram kekurangan kertas, maka ia pun menggunakan kertas semen untuk menulis. Sedangkan pena untuk menulis Pram dapatkan dari rohaniawan Khatolik yang secara berkala mengunjungi Pulau Buru, untuk membimbing para tapol. Sedangkan, untuk mendapatkan mesin ketik pun tidak mudah.

Hal ini dikarenakan, tentara enggan memberikan kemudahan bagi Pram, untuk memperoleh mesin tik, agar bisa digunakan untuk menulis. Namun atas desakan dunia internasional barulah di tahun 1973 Pram mendapat bantuan mesin tik lengkap dengan kertas dan pita tiknya. Begitu pula karya-karya sastranya secara diam-diam diselundupkan koleganya ke luar Pulau Buru agar bisa dibaca dan dicetak.(CNN Indonesia, 2015).


Terlepas dari itu, seperti karya-karya Pram lainnya yang menarik bagi khalayak pembaca, novel Perburuan juga sama, dimana menarik perhatian pembaca. Novel ini mengisahkan seorang pejuang yang sangat mencintai negerinya. Rentang waktu cerita berkisar pada penjajahan Jepang sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia (saat Jepang menyerah pada sekutu).

Sang pejuang ini rela meninggalkan orang tuanya, tunangannya, harta, dan kesenangan-kesenangannya demi satu tekad: merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kalau disimak dengan teliti, cerita dalam novel inipun berciri nasionalistis. Semangat nasionalisme dan patriotisme selalu menginspirasi Pram dan karya-karyanya. (Benz Manroe, 2026).

Meskipun novel Perburuan merupakan karya lawas Pram, yang ditulis ketika ia mendekam di Penjara Bukit Duri Jakarta pada Mei 1949 lampau. Namun tetap layak di baca oleh para khalayak pembaca, yang sejak lama menyukai karya penulis kelahiran Blora, Jawa Timur tersebut. Pasalnya mengisahkan tentang eksistensi kecintaan seorang pemuda terhadap tanah airnya, dengan berbagai kompleksitas problem yang dihadapinya, ditengah pendudukan tentara Kekaisaran Jepang tersebut.(**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *