Connect with us

Politik

Pakar Politik Unpatti Prediksi Figur “Kuda Hitam” Bakal Tumbangkan Incumbent HL & AV, Satunya Duduk di Senayan ?

Published

on

AMBON,DM.COM,-Meski perhelatan pemilihan Gubernur Maluku, masih menyisahkan empat tahun kedepan, namun sejumlah figur mulai diwacanakan dan diprediksi bakal maju mencalonkan diri pada ‘pesta’ demokrasi lokal lima tahunan itu.

Sebab, incumbent Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa (HL) dan Abdullah Vanath (AV), dipastikan bakal kembali maju bersama atau pisah pada Pilgub Maluku yang digelar 2030 mendatang.

Sementara, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Benhur Watubun, yang juga Ketua DPRD Provinsi Maluku, sudah menyatakan kesiapan merebut kursi panas yang kini diduduki Lewerissa, jika DPP PDI Perjuangan menugaskannya berlaga kembali merebut kursi orang nomor satu didaerah ini yang pernah diraih PDI Perjuangan tiga periode sebelumnya.

Selain tiga figur tersebut, sejumlah nama diprediksi bakal ikut berlaga merebut kursi Gubernur. Mereka ini, biasanya disebut figur atau elit ‘Kuda Hitam’ atau (dark horse) pasangan calon atau kandidat kepala daerah yang awalnya kurang terkenal, jarang disebut dalam survei unggulan, dan tidak diandalkan untuk menang, namun berpotensi memberi kejutan besar dan memenangi kontestasi.

WAKIL DEKAN II FISIP UNPATTI, DR SYAFRUDIN BUSTAM LAYN, S.SOS, M.SI

Lantas, siapa saja figur atau elit kuda hitam dan peluang mereka menumbangkan elit incmbent ? Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura (FISIP Unpatti), Dr Syafrudin Bustam Layn, S.Sos, M.Si yang juga Mantan anggota KPU Kota Ambon mengatakan, Pilgub Maluku dan Pilwakot Ambon 2030 mendatang itu, ada tiga bentuk elit yang muncul.

” Elit yang pertama itu, elit incumbent, elit parpol, dan elit kuda hitam. Kalau di Malulu ada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath. Itu mereka bagian dari elit incumbent. Kalau di Kota Ambon, ada Bodewin Wattimena, Wakil Walikota, Ely Toisutta. Nah, mereka ini bagian dari elit incumbent,”kata Layn, kepada awak media di ruang kerjanya, Rabu (19/8/2026).

Dia mengaku, figur atau elit incumbent ini, sangat berpotensi bakal kembali ikut kontestasi di Pilgub dan Pilwakot.” Bisa saja, Walikota Ambon, masuk konstestasi Pilgub. Nah, tidak menutup kemungkinan semua orang punya hak untuk maju sepanjang memenuhi syarat,”tandasnya.

Kedua, kata dia, adalah, elit dari parpol. Hari ini, ingat dia, publik Maluku, sudah banyak membaca berita di media cetak dan online, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur George Watubun, sudah terang-terangan nyatakan kesiapan maju, jika diugaskan DPP PDIP. “Pada prinsipnya, beliau siap. Nah tidak menutup kemungkinan calon lain dari parpol lain, seperti Golkar dan parpol besar lainya,”sebutnya.

Yang ketiga, lanjutnya, adalah elit kuda hitam. Elit ini menurutnya, bagian dari non incumbent. Dia mencontohkan, sejumlah nama masuk kategori elit kuda hitam, yakni Febri Tetelepta (mantan Deputi 1 Kantor Staf Kepresidenan, Jefri Rahawarin (Mantan Pangdam XVPattimura/mantanCalon Gubernur Maluku).

“Kemudian ada nama baru dan tidak menutup kemungkinan beliau punya keinginan politik dan arahan partai Golkar, yakni Soedeson Tjandra. (Anggota DPR RI/Sekretaris Komisi III DPR RI), “bebernya.

Soal, Soedeson terpilih dari daerah pemilihan Papua pada pemilu legislatif 2024 lalu, dia menegaskan.”Jadi bukan dari dapil Papua, tapi sepanjang beliau memenuhi syarat, sebagai calon beliau bisa dicalonkan. Ini sangat mempengaruhi karena kuda hitam atau elit non incumbent ini, punya jaringan sosial, dan modal sosial yang kuat,”tegasnya.

Apalagi, ingat dia, Pulau Seram saat ini, tidak bisa diklaim oleh orang Seram saja. Semua orang punya akses dengan jaringan sosial, modal sosial, dan modal ekonomi serta modal politik masuk di pulau terbesar di Provinsi Maluku itu untuk harap suara.

“Semuanya berperan. Jadi memang sangat menarik tiga elit ini. Ada elit incumbent, elit parpol, dan elit kuda hitam. Nah, tiga elit ini akan berkolaborasi. Kita lihat kalau elit incumbent, Hendrik Lewerissa punya modal dasar, pak Abdullah Vanath punya modal sebagai pemenang suara pertama di Pilgub 2024 lalu. Kemudian Pilgub lalu, pak Jefri Rahawarin dan Pak Mukti Keliobas pemenang kedua. Nah, disitu PDIP dibelakang, tapi modal sosial juga ada. Meski ada partai tapi, modal sosial, modal jaringan. Itu memang sangat menentukan. Jadi memang menariknya tiga elit itu,”paparnya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Pemerintahan FISIP Unpatti, Dr Amir Kotarumalos, menambahkan, dengan kombinasi tiga elit ini, proses Pilgub kedepan, meraup dan menggarap tiga jenis massa.

” Ada massa pragmatis, ada massa oportunis, dan massa ideologis. Yang saya lihat memang massa ideologis ini sangat sedikit. Yang paling banyak adalah, massa pragmatis dan massa oportunis,”jelasnya.

Kedepan, ingat dia, tergantung kekuatan modal finansial para calon, disamping akar sosial, namun sekarang jenis voters saat ini cenderung pragmatis dan oportunis. “Pragmatisme dan oportunisme ini, mesin pembakarnya adalah duit. Jadi kedepan orang harus menggunakan semua logika ini. Nah, kalau dalam revolusi diammya itu, kemampuan masyarakat untuk menilai satu progres politik, prunsipnya masyarakat tidak ngomong. Merekq hanya diam dan melihat seberapa besar berbuat bagi mereka,”ingatnya.

Apalagi, tambaj dia, elit incumbent saat ini belum terlalu berbuak banyak untuk Maluku. “Nah, ini pintu masuk bagi elit kuda hitam bisa tumbangkan incimbent,”sebutnya.

Layn menambahkan, elit kuda hitam ini selalu mewarnai konstestasi Pilkada maupun Pilwakot. “Selalu saja ada figur kuda hitam yang muncul. Kuda hitam ini biasa muncul pada tahapan Pilkada. Sementara ini mereka belum nampak karena mereka belum menentukan strategi. Karena mereka akan lawan adalah incumbent. Nah, kalau incumbent ini tetap bersatu dan maju, para elit kuda hitam ini merubah strategi lagi. Berbeda kalau inucmbent ini pada waktunya jalan masing-masong. Khan begitu,”jelasnya

Apalagi, tambah dia, elit incumbent ini punya tantangan besar mempertahankan dukungan dan menjawab kinerja. “Itu posisi elit incumbent. Tapi kuda hitam tidak punya beban. Kuda hitam maju dengan strategi tidak ada beban. Dia tidak perlu menjawab kinerja karena dia tidak berada dalam struktur kekuasaan. Kuda hitam ini hanya meyakinkan konstituen, bahwa saya hadir dan bisa berbuat lebih. Dan bisa membandingkan dengan para incumbent,”tandasnya.

Apakah, kinerja pemerintahan saat ini, posisi kuda hitam bisa memenangkan Pilgub. Dia memprediksikan, banyak peluang menang. “Dinamika di Maluku, kita lihat antara Gubernur dan Wakil Gubernur, memberi peluang munculnya kuda hitam. Kita ketahui bersama bahwa dinamika ketidakharmonisan lalu, diklarifikasi itu bagian dari dinamika. Bagi kami didunia pemerintahan biasa. Tapi, elit politik lain bisa melihat keuntungan dari situ untuk menyusin strategi pada konstestaai nanti,”pungkasnya.(DM-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *