Politik
Aroma Pilgub Maluku Mulai Menyengat, Dosen FISIP Unpatti : Ada Kontestasi Elit & Konfigurasi Politik


AMBON,DM.COM,-Ditengah sejumlah figur mulai menyatakan sikap bakal maju dan diwacanakan bertarung di pemilihan Gubernur Maluku 2030 mendatang, justeru Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath, justeru mulai sibuk bergerilya mencari dukungan politik.
Jika Hendrik Lewerissa (HL) menemui mantan Gubernur Maluku, Murad Ismail, di salah satu rumah kota di kawasan jalan Sam Ratulangi, Kota Ambon, sementara Abdullah Vanath, tengah sibuk dampingi anggota DPRD Kota Ambon dan DPRD Provinsi Maluku dari fraksi NasDem menemui warga.
HL dikabarkan temui Murad Ismail (MI) disinyalir ada pembicaraan khusus soal Widya Murad Pratiwi, bakal mendampingi HL di Pilgub mendatang. Namun, baik HL maupun MI belum membeberkan pertemuan mereka terkait ‘pesta’ demokrasi lokal lima tahunan itu.

DR SAFRUDIN B. LAYN, M.Si
Lantas, HL dan AV mulai jalan sendiri mencari dukungan politik, pertanda mereka bakal pisah dan mencari pasangan sendiri untuk bersaing merebut kursi orang nomor satu dan dua di Maluku, salah satu Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP-UNPATTI Dr. Safrudin B. Layn, M.Si mengatakan, Pilgub Maluku mendatang, tidak hanya kontestasi elite dan konfigurasi kekuatan politik di Maluku.
“Jadi memang sangat menarik untuk mengkaji sejak dini dinamika Pilkada Maluku mendatang melalui perspektif politik empiris. Kajian ini tidak sekadar memperbincangkan nama-nama yang berpotensi maju, tetapi berupaya membaca secara sistematis peta kekuatan politik, modal elektoral, jaringan elite, dukungan partai, serta peluang dan tantangan masing-masing kandidat dalam memperebutkan kekuasaan politik di Maluku,”kata Layn, melalui keterangantertulisyang diterima DINAMIKAMALUKU.COM, Kamis (3/9/2026).
Menurut mantan anggota KPU Kota Ambon itu, Pemilihan Kepala Daerah mendatang berdasarkan kalender pemilu berada di tahun 2029/2030 tergantung kerangka penyelenggaraan yang digunakan.
” Sehingga untuk kepentingan analisis saat ini lebih tepat kita sebut “Bursa Kandidat 01, Kontestasi Elite Dan Rekonfigurasi Kekuatan Politik Di Maluku,”jelasnya.
Dia mengaku, sesuai data resmi Pilgub Maluku 2024 lalu, menunjukkan Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath memenangkan kontestasi dengan 47,40 persen suara, sedangkan Jeffry Rahawarin-Abdul Mukti Keliobas 26,99 persen suara dan Murad Ismail-Michael Wattimena 25,62 persen suara.
“Belum melewati setengah periode bekerja pemenang Pemilihan (Gubernir dan Wakil saat ini) sudah mulai semarak di bursa kandidat diberbagai media terutama pada media sosial, menariknya bahwa Isu bursa kandidat sekarang bergerak lebih awal. Nama Hendrik Lewerissa, Abdullah Vanath, Benhur Watubun, Murad Ismail/ Widya Pratiwi Murad, Febry Calvin Tetelepta dan Saadia Uluputy serta Rofiq Afifudin, juga Richard Louhenapessy dan Michael Wattimena, mulai muncul dalam wacana politik,”bebernya.
Bahkan, ingat dia, dikabarkan mantan Deputi I KSP, Febry Calvin Tetelepta sudah ditetapkan DPW PSI Maluku sebagai calon tunggal kepala daerah yang akan didorong untuk kontestasi mendatang.
” Sementara itu, muncul pula pemberitaan mengenai kemungkinan Hi. Murad Ismail (mantan Gubernur Maluku) kembali maju, meskipun sampai saat ini belum ada informasi valid dari beliau,”lanjutnya.
Untuk itu, menurutnya, bursa Pilgub Maluku, dapat di petakan menjadi 4 kelompok.
Kelompok Figur yang mulai muncul
Modal politik utama Incumbent
Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath karena dalam Kekuasaan Pemerintahan, Jaringan Birokrasi, Popularitas, Pengalaman
Sementara ada elite partai seperti Benhur Watubun (Ketua DPRD Provinsi Maluku), Soedeson Tandra (anggota DPR RI/Fraksi Golkar). Tidak hanya itu, ada Widya Pratiwi Murad (anggota DPRcRI/ Fraksi PAN) dan Rofiq Afifudin (anggota DPRD Provinsi Maluku), Saadia Uluputy (anggota DPR RI/ Fraksi PKS, dan Michael Wattimena (mantan anggota DPR RI, mantan calon Wakil Gubernur Maluku, Tenaga Ahli Menteri ESDM RI dan Komisaris PT Pertamina International Shipping).” Jadi mereka ini kategori struktur Partai, basis Legislatif, dan Pengalaman Politik,”paparnya.
Sedangkan kategori lainya, yakni mantan incumbent atau penguasa sebelumnya, adalah Murad Ismail (mantan Gubernur Maluku), Barnabas Orno (Mantan Wakil Guberur Maluku), Ricahrad Louhenapessy (mantan Walikota Ambon dua periode).
“Mereka ini memiliki pengalaman sebagai Gubernur/ Wagub, Walikota, jaringan politik dan sosial,”terangnya.
Tak hanya itu, dia juga mengaku, ada kategori Kuda hitam/new challenger seperti Bodewin M. Wattimena (Walikota Ambon), Sam Latuconsina (mantan Wakil Walikota Ambon), dan
Febry Tetelepta, dan figur lain yang belum muncul Namanya.”Mereka ini memikiki jaringan Baru, Branding, Dukungan Partai, Kemampuan Membangun Koalisi,”sebutnya.
Namun, menariknya bukan siapa yang paling populer sekarang. Kata dia, yang lebih penting adalah siapa yang mampu mengubah modal politik menjadi koalisi elektoral yang efektif pada saat kontestasi benar-benar dimulai?
“Karena pengalaman Pilgub 2024 menunjukkan bahwa popularitas personal saja tidak cukup. Lewerissa-Vanath mampu memperoleh 437.379 suara atau 47,40 persen suada, sementara dua pasangan lainnya masing-masing berada di sekitar 25 sampai 27 persen suara,”ingatnya.
Kendati begitu, dia kembali mengigatkan, ada 6 variabel yang bisa dipakai untuk membaca bursa kandidat dengan modal electoral.”Berapa besar basis suara yang benar-benar dimiliki kandidat,”tanya dia.
Modal partai, lanjut dia, partai politik mana yang dapat mengusung atau menjadi kendaraan politiknya? Modal birokrasi dan pemerintahan. Seberapa kuat posisi kandidat dalam mengakses jaringan pemerintahan dan kebijakan?
Begitu juga dengan modal social. Seberapa luas jaringan kandidat pada komunitas agama, adat, pemuda, perempuan, tokoh masyarakat, dan kelompok profesi?
Modal geografis. Di kabupaten/kota (lokus) mana kandidat memiliki basis yang kuat dan representatif?. Modal finansial dan jaringan pengusaha. Seberapa mampu kandidat membiayai konsolidasi politik dalam rentang waktu Panjang dengan banyak pulau?
“Dari sini kita bisa membuat “Political Market Map Pilgub Maluku”. menurut saya akan jauh lebih menarik dari pada sekadar bicara dan membuat daftar calon,”tegasnya.
Dia kemudian membedah kemungkinan
Hendrik Lewerissa vs Abdullah Vanath vs Widya Pratiwi Murad vs Rofiq Afifudin vs Benhur Watubun vs Saadia Uluputy vs Sam Latuconsina vs Febry Tetelepta.
“Lalu kita nilai masing-masing berdasarkan: popularitas, elektabilitas, partai, basis wilayah, jaringan sosial, sumber daya, peluang koalisi, dan kelemahan politik,”pungkasnya.(DM-04).