Connect with us

Ragam

“SEBENARNYA SOMLAKI, BUKAN SAUMLAKI”

Published

on

Oleh : Agustinus Rahanwarat

Tulisan ini mungkin agak mengejutkan, tapi baiknya saya mencoba mempopulerkannya sebagai suatu hasil kajian sederhana, siapa tahu kelak kita bisa menggunakannya sebagai suatu tulisan dan ucapan resmi yang digunakan dalam keseharian, termasuk dalam banyak dokumen. Saya bahkan telah mengajarkan anggota keluarga dan lingkungan keseharian saya tinggal agar memulai tulisan dan ucapan kata Somlaki bukan Saumlaki.

Melalui banyak cerita di masa lampau, saya terus menelusuri mengapa disebut Saumlaki dalam tulisan maupun ucapan. Beberapa naskah tulisan saya tentang jatuh bangun Somlaki sejak dibuka oleh 2 warga berkebangsaan China yang datang sekitar tahun 1920 silam, Go Sim dan Go Hwa, lalu terbentuklah pemukiman hingga adanya pemerintahan sementara yang dipimpin oleh tuan Markus Kay hingga Simon Pitna dan berlanjut sampai KPS tuan A. Pentury yang memperluas pemukiman setelah kembalinya Presiden Soekarno, Selasa 4 November 1958.

Dalam buku berjudul 100 tahun agama Katolik di Tanimbar yang ditulis Frits Pangemanan dan Pastor C. J. Bohm, MSC, sama sekali tidak menceritakan bahwa telah ada pemukiman warga bernama Somlaki. Kedua misionaris yang tiba di Waytole pada tanggal 17 September 1910 ternyata melalui Onjout dan Lakateru yang terdekat dengan Waytole, maka saya pun berkesimpulan bahwa Somlaki belum terbentuk diantara tahun 1910-1920, padahal sepanjang pantai berbatuan dari Lakateru ke arah utara dan timur pulau Yamdena telah ada para nelayan yang beristirahat serta menjemur hasil lautnya. Mereka adalah warga dari pulau Seira dan Selwas Makatian. Rupanya mereka telah ada beberapa abad setelah tenggelamnya pulau Barsaidi karena tsunami dahsyat.

Lantas, mengapa diberi nama Somlaki lalu kemudian ditulis dan diucap sebagai Saumlaki?
Kata Saumlaki sebenarnya berasal dari kata Soblakh/Soblakhi yang artinya pohon asam jawa. Pohon ini tidak tumbuh sendiri di hamparan tanah berbatu di area yang sekarang disebut Saumlaki. Pohon/tanaman asam jawa dibawa oleh para nelayan dari Selwas Makatian dan ditanam di sepanjang wilayah tempat tinggal mereka, lalu akhirnya tempat yang dikuasai atas izin orang-orang Olilit itu diberi nama Soblakh/Soblakhi. Ucapan itu diulang-ulang hingga diucap Somlaki, tetap dengan arti yang sebenarnya yaitu pohon asam jawa. Beberapa bukti masih ada sampai saat ini di mana pohon asam jawa masih tetap dilestarikan agar tidak punah untuk mengingatkan kita akan cerita awal nama Somlaki yang berasal dari kata Soblakh/Soblakhi. Ucapan Somlaki pun berubah, saya menduga perubahan ini terjadi karena pengaruh ucapan dari mulut orang asing berkebangsaan Belanda yang menyebutnya Saumlaki dari kata yang sebenarnya yaitu Somlaki. Bahkan saat dibentuknya HPB (Hoofd van Plaatselijk Bestur) atau kepala pemerintahan daerah di Somlaki yang kekuasaannya diatur sepenuhnya oleh Belanda sebelum masuknya pendudukan Jepang 1942, sepertinya kata Saumlaki sudah jadi tulisan dan ucapan yang permanen dalam keseharian dan dalam banyak dokumen resmi.

Agar tidak terpengaruh kekuasaan penjajah Belanda maupun Jepang atas tulisan maupun ucapan Saumlaki, saya tetap akan mempopulerkan tulisan dan ucapan yang sebenarnya yaitu Somlaki. Bukan Saumlaki. Sekali lagi, Somlaki bukan Saumlaki. Mari kita membiasakan mengucapkan Somlaki, juga menuliskan Somlaki agar semakin dekat dengan akar sejarah sebenarnya di mana awal mula Somlaki dibentuk hingga sekarang.

Masih nyaman dengan tulisan dan ucapan, Saumlaki? Mari berbenah, mari kita memulai hal baru yang benar untuk generasi anak cucu kita kedepan. Tulislah SOMLAKI bukan SAUMLAKI. Ucapkanlah SOMLAKI bukan SAUMLAKI.(**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *