Connect with us

Politik

Lelaki Familiar Murah Senyum itu Bernama Ami Bak

Published

on

Dr. M.J, Latuconsina, S.IP, MA
Staf Dosen Fisipol, Universitas Pattimura

“Sebaik-baik wajah adalah senyum yang gampang dikenang..” (Sujiwo Tejo)


Saya tidak mengingat dengan pasti kapan dan di mana pertama kali berkenalan dengan lelaki familiar dan murah senyum, yang bernama Ami Bak sapaan populer dari Drs. Syarif Bakri Asyathri, M.Si. Hanya saja dalam ingatan saya pada beberapa tahun silam, tiap kali bertemu di Kantor Gubernur Maluku, Masjid Alfatah, warung kopi dan berbagai tempat lainnya, ia selalu familiar dengan lebih dulu menegur sambil mengubar senyum khasnya kepada saya. Senyumnya itu, mengingatkan saya pada ungkapan Haji Abdul Malik Karim Amrullah seorang ulama besar Indonesia pada zamannya, yang populer di sapa Hamka bahwa,”..senyum yang sebenarnya senyum..”

Hingga kemudian di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Universitas Pattimura (Unpatti), saya sering mendengar kisah-kisahnya dari Bang Prof. Zainal A. Rengifurwarin, yang juga seangkatan kuliah dengannya. Barulah saya tahu Ami Bak pernah kuliah di kampus kuning itu, yang juga seangkatan dengan Bang Juanda Umasugi. Marganya tidak asing bagi saya, karena dahulu kala tetangga saya di Masohi namanya Dahlan juga bermarga sama dengan beliau, yang kebetulan juga berasal dari daerah yang sama dengannya Seram Timur sana.

Ia tidak saja familiar dan murah senyum. Bagi saya ia adalah sosok mantan birokrat pemikir, yang memulai karier birokrasinya dari bawah. Beberapa jabatan strategis di Provinsi Maluku dahulunya pernah ia tempati. Namun tak membuat ia “sombong”, melainkan tetap rendah hati. Di penghujung masa purna baktinya beberapa tahun lalu, ia banyak berdakwa dengan tampil pada berbagai acara keagamaan Islam, baik itu di bulan suci ramadhan, halal bihalal dan acara-acara lainnya. Sehingga julukan baru pun saya berikan kepadanya “birokrat religius”. Pernah beberapa tahun lalu, ia memberikan ceramah kepada kami di Bawaslu Kota Ambon dan Bawaslu Provinsu Maluku saat bulan suci ramadhan.

Dalam ceramah itu, ia mengisahkan saat bulan suci ramadhan di kampungnya Geser Seram Timur, dimana ikan sudah di pancing sebanyak-banyaknya. Begitu pula kayu bakar juga sudah di sediakan sebanyak-banyaknya, untuk persiapan puasa. Sesekali dalam ceramah itu, ia menyebut nama saya dan sahabat saya Daim Baco Rahawarin. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya, rupanya ia tetap mengingat nama saya. Itu pertanda Ami Bak seorang yang familiar, dan tidak begitu saja melupakan orang-orang yang ia kenal.

Fotonya ini, bukanlah suatu settingan yang dibuat-buat. Melainkan foto Ami Bak yang saya ambil gambarnya dengan Nikkor Lens AF 70-300 MM dari dalam mobil. Sehingga ia benar-benar dalam kondisi tidak tahu. Ia nampak lagi serius penuh ekspresif saat berbicara dengan aparat kepolisian, yang tengah melakukan pengamanan pada acara paripurna penyampaian visi dan misi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Maluku pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Langsung Provinsi Maluku tahun 2013 lalu.

Belakangan ini, ia juga tidak berbeda dengan saya, selalu menulis kisah-kisah inspiratif religus dan humanis di facebook, yang mendapat respons begitu banyak dari para nitizen. Hingga membuat “penasaran” para nitizen yang lain, agar juga menceritakan kisah-kisah di daerah lainnya. Itulah karakter Ami Bak, yang tidak saja selalu familiar dan murah senyum. Tapi juga membuat khalayak senang membaca kisah-kisahnya. Sikap familiar dan murah senyumnya mengingatkan saya pada quotes Sujiwo Tejo, seorang budayawan nasional bahwa, “sebaik-baik wajah adalah senyum yang gampang dikenang..”(**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *