Connect with us

Pendidikan

Modus Operasional Kunker Kadis Dikbud Malteng di Saparua, Dua Korwil Diduga “Peras” Kepsek

Published

on

AMBON,DM.COM,-Sejumlah Kepala Sekolah (Kepsek) di Kecamatan Saparua dan Saparua Timur, mengeluh setelah diduga diperas dua Koordinator Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) dikecamatan itu dengan nilai bervariasi.

Para Kepsek diminta menyetor uang senilai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, dengan alasan biaya operasional Kadis Dikbud Malteng, Husein Mukadar, bersama rombongan selama kunjungan kerja (Kunker) di Kecamatan Saparua, beberapa waktu lalu.

“Kemarin, kunker Kadis Dikbud Malteng dan rombongan ke Saparua dan Saparua Timur itu memang ada positifnya. Tetapi ada satu hal yang mesti dipertanyakan,”kata sumber DINAMIKAMALUKU.COM, Sabtu (18/5/2024).

Dia mengaku, ketika Kunker Kadis Dikbud Malteng dan rombongan, dua Korwil Dikbud, masing-masing, Koŕwil Dikbud Saparua Timur, Hengki Patiasina dan Korwil Dikbud Saparua, Yan Hattu, sibuk menagih uang senilai Rp 100 ribu hingga Rp 150 dari seluruh Kepsekĺlllllllĺ di kecamatan itu.

” Katanya uang yang ditagih membayar penginapan, transportasi dan biaya Kadis dan rombongan selama kunker di Saparua,”bebernya.

Padahal, ingat sumber itu, setiap perjalanan dinas pimpinan OPD dan ASN ada SPPD-nya. “Pertanyaan praktek-praktek semacam ini Kadis Dikbud Malteng tahu atau tidak. Atau kebijakan Korwil Dikbud Pattiasina dan Hattu. Memang para guru selama ini selalu menjadi bahan garapan.
Ini tidak boleh,”terangnya.

Padahal, ingat dia, praktek semacam itu, kerab terjadi pada kepemimpinan di institusi pendidikan itu sebelumnya.”Setiap pejabat kesana, Korwil melakukan penagihan. Pejabat pendidikan sangat enak Kunker ke Saparua. Setahu saya mereka khan perjalanan dinas dibayar negara beberapa hari,”sebutnya.

Tak hanya kunjungan pejabat pendidikan di Saparua, para Kepsek ditagih, ada iven tertentu para Kepsek juga menjadi sasaran untuk menyetor sejumlah uang kepada sang Korwil.

” Itu uang receh, tapi kalau dikumpul khan banyak. Bapak Penjabat Bupati Malteng tolong lihat peroalan ini. Sekecil apapun. Jangan atas nama Kadis. Kalau tagihan dengan bayar operasional Kadis khan aneh. Apakah mereka sampaikan ke Kadis kalau ada pungutan. Tapi tidak mungkin kadis tahu. Itu cari muka untuk melanggengkan jabatan. Itu cara kotor. Kita butuh Saparua itu ada inovasi dan terobosan pengembangan pendidikan,”ingatnya.

Terpisah, Kadis Dikbud Malteng, Husein Mukadar membantah kunkernya difasilitasu para Kepsek di Saparua.”Itu tidak benar. Itu fitnah. Selama saya di Saparua, saya ingatkan para guru agar tidak boleh ada pungutan liar. Nah, kalau terbukti ada Pungli, saya pangkas dan habisi,”tegas Mukadar, ketika dihubungi DINAMIKAMALUKU.COM, Sabtu (18/5/2024).

Ketika ditanya, jika Korwil Dikbud pungut, Mukadar mengaku.” Saya tidak tahu. Saya siap bertanggungjawab. Nah, kalau ketahuan Korwil terlibat saya tindak kalau bukti jelas saya tindak. Selama ini memang Dinas disoroti seperti itu,”sebutnya.

Sementara itu, Hengki Pattiasina membantah kalau dirinya ikut melakukan pungutan atau peras para Kepsek.”Tidak benar saya pungut. Itu kebijakan kepala sekolah untuk buat beberapa Baleho dan persiapan lokasi kegiatan. Dan itu ditangani langsung oleh kepala sekolah dalam persiapan-persiapan,”kata Pattiasina, ketika dikonfirmasi DINAMIKAMALUKU.COM, via Whatshap, Sabtu (18/5/2024).(DM-01).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *