Connect with us

Ragam

Dukung Program MBG, GEF-6 CFI Indonesia Bangun Rantai Pasok Perikanan Lokal KMMP Kota Tual

Published

on

AMBON,DM.COM,– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang baru bagi penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Sesuai keterangan tertulis yang diterima DINAMIKAMALUKU.COM, Selasa (4/8/2026), peluang tersebut mulai diwujudkan di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Ohoi Labetawi, Kota Tual, melalui kegiatan Inisiatif Champion Kampung Nelayan Merah Putih yang berlangsung 30 Juli 2026 hingga 1 Agustus 2026.

Kegiatan yang difasilitasi GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia bekerja sama dengan Dinas Perikanan Kota Tual ini mempertemukan kelompok perempuan pengolah hasil perikanan dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Tual. Tujuannya adalah membangun rantai pasok produk perikanan lokal yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Selama tiga hari, para peserta memperoleh pelatihan pengolahan hasil perikanan, peningkatan mutu produk, keamanan pangan, sertifikasi halal, legalitas usaha, hingga strategi membangun kemitraan jangka panjang dengan dapur MBG. Pendekatan ini diharapkan mampu mempersiapkan kelompok perempuan menjadi pelaku usaha yang siap memenuhi kebutuhan pasar modern dengan produk perikanan yang bernilai tambah.

Koordinator Wilayah MBG Kota Tual, Veronika D. Songjanan, mengungkapkan bahwa kebutuhan bahan baku ikan untuk dapur MBG di Kota Tual masih jauh dari terpenuhi.

“Satu dapur SPPG membutuhkan sekitar 400 kilogram ikan setiap hari, sementara pasokan yang tersedia sering kali hanya sekitar 100 kilogram. Kekurangan tersebut terpaksa diganti dengan sumber protein lain seperti ayam atau telur,” jelasnya.

Menurut Veronika, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi kelompok usaha perempuan di KNMP untuk mengisi kebutuhan pasar yang telah tersedia. Dapur MBG membutuhkan berbagai produk olahan ikan siap masak seperti fillet, bakso, nugget, sosis ikan, dimsum, stik ikan, abon hingga berbagai produk frozen food. Namun seluruh produk wajib memenuhi standar mutu, keamanan pangan, memiliki sertifikat halal, diproduksi secara higienis, dikemas dengan baik, serta dipasok secara konsisten sesuai kebutuhan.

“Kami mencari mitra yang mampu menjaga kualitas dan memenuhikomitmen. Produk yang diterima harus aman, berkualitas, dan siap mengganti apabila terjadi kekurangan jumlah maupun kerusakan sesuai kesepakatan kerja sama,” tambahnya.

Sementara itu, Knowledge Management and Monitoring Evaluation (M&E) Specialist PMU GEF-6 CFI Indonesia, Ahadar Tuhuteru, menjelaskan bahwa kegiatan di KNMP Ohoi Labetawi merupakan bagian dari pelaksanaan Inisiatif Champion di tiga lokasi percontohan Kampung Nelayan Merah Putih di Indonesia. Sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di KNMP Warmasen, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, dan KNMP Wailihang, Kabupaten Buru, Maluku.

Ketiga lokasi tersebut dipilih karena telah memiliki infrastruktur perikanan, komunitas nelayan yang aktif, serta potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi yang terhubung langsung dengan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis.

“Selama ini tantangan terbesar kelompok bukan memproduksi, tetapi mencari pasar. Sekarang pasarnya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kelompok mampu memenuhi standar kualitas dan menjaga konsistensi produksi,” ujarnya.

Menurut Ahadar, GEF-6 CFI Indonesia tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi membangun ekosistem usaha secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas, pengembangan produk, sertifikasi halal, penguatan legalitas usaha, peningkatan kualitas kemasan, pemasaran digital, hingga membuka akses pasar.

Hingga saat ini, lebih dari 6.500 nelayan telah memperoleh pendampingan melalui GEF-6 CFI Indonesia. Produk-produk binaan masyarakat bahkan telah dipasarkan di toko modern, pusat oleh-oleh, supermarket, hingga Bandara Pattimura Ambon. Dalam beberapa bulan mendatang, kelompok perempuan KNMP Kota Tual juga akan mengikuti pelatihan lanjutan mengenai penguatan kemitraan dengan SPPG, pemasaran digital, peningkatan kualitas produk dan kemasan, serta strategi keberlanjutan usaha melalui jejaring pemerintah, dunia usaha, dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Ahadar menegaskan bahwa keberhasilan usaha masyarakat tidak hanya ditentukan oleh modal.

“Yang pertama adalah niat yang kuat. Kedua, konsisten menjaga kualitas dan memenuhi komitmen. Ketiga, mengelola keuangan kelompok secara transparan dan profesional. Tiga hal ini menjadi fondasi agar usaha dapat berkembang dalam jangka panjang,” tegasnya.

Mewakili Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ade Wiguna, Ketua Tim Kerja Perencanaan Strategis Biro Perencanaan KKP, menilai kegiatan ini selaras dengan Roadmap Pengarusutamaan Gender KKP Tahun 2025–2029 sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 Tahun 2026.

Menurutnya, seluruh peserta merupakan kelompok perempuan yang memperoleh keterampilan baru dalam mengolah hasil perikanan sekaligus dipersiapkan menjadi bagian dari rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis.

“Pendampingan ini merupakan contoh nyata sinergi antara pemerintah dan mitra pembangunan dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan. Harapannya, kelompok tidak hanya mampu memasok kebutuhan SPPG, tetapi juga memenuhi standar mutu sehingga produknya dapat menembus pasar nasional,” ujarnya.

Senada dengan itu, Gender Specialist GEF-6 CFI Indonesia, Faridatun Amalia, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga memperkuat kepemimpinan, memperluas akses terhadap peluang usaha, dan memastikan perempuan menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.

Untuk memperkuat kesiapan kelompok, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Kantor Wilayah Kementerian Agama mengenai sertifikasi halal, Dinas Kesehatan Kota Tual terkait mekanisme perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta instruktur pengolahan hasil perikanan dari Politeknik Perikanan Negeri Tual.

Sebagai bagian dari pembelajaran antarkelompok, GEF-6 CFI Indonesia juga menghadirkan dua Champion binaan dari Kabupaten Maluku Tenggara, yakni Sri Fani Mony dari Kelompok Dulla Tama Desa Watkidat dan Zulfa Hayer dari Kelompok SID SARMAV Snack Desa Ohoidertawun. Keduanya berbagi pengalaman membangun usaha olahan hasil perikanan hingga mampu menembus pasar modern. Pendekatan Champion ini diharapkan mempercepat replikasi praktik-praktik baik di KNMP Kota Tual sekaligus memperkuat keberlanjutan program setelah pendampingan GEF-6 CFI Indonesia berakhir.

Kepala Dinas Perikanan Kota Tual, Rustam Serang, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan serta GEF-6 CFI Indonesia atas kolaborasi yang memperkuat pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan. Menurutnya, Kota Tual memiliki sumber daya perikanan yang melimpah, sehingga tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan hasil perikanan mampu memberikan nilai tambah melalui pengolahan, menjaga keberlanjutan sumber daya, serta memperluas akses pasar bagi masyarakat pesisir.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa pemerintah menjalankan mandat Presiden Prabowo untuk membangun 5000 kampung nelayah merah putih sampai dengan tahun 2029 guna memastikan sumber daya perikanan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi nelayan lokal dan masyarakat pesisir. Menurutnya, Program Kampung Nelayan Merah Putih merupakan peluang besar untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan, sehingga pemerintah daerah perlu aktif menangkap peluang tersebut agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.

Melalui Inisiatif Champion Kampung Nelayan Merah Putih, GEF-6 CFI Indonesia berharap lahir model kolaborasi yang menghubungkan pemberdayaan perempuan, penguatan usaha perikanan lokal, peningkatan gizi masyarakat, dan keberlanjutan sumber daya pesisir. Jika berhasil, model ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai Kampung Nelayan Merah Putih lainnya di Indonesia sehingga Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi biru yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.(DM-04)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *