Connect with us

Politik

Hadiri Pelantikan ICMI, Gubernur Terpilih Paparkan Tantangan & Potensi Bangun Maluku

Published

on

AMBON,DM.COM,-Gubernur Maluku Terpilih, Hendrik Lewerissa, menghadiri pelantikan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia Organissi Wilayah (ICMI Orwil) Maluku, Periode 2025-2030 di Hotel Santika, Senin (27/1/2025).

Pada kesempatan itu, Lewerissa didaulat menjadi Keynote Speech di acara pelantikan pengurus ICMI Orwil Maluku yang dinakhodai Dr Ruslan Tawary, SPi, MSi yang dihadiri Penjabat Gubernur Maluku, Sadali Ie dan Ketua MPP ICMI Prof Dr Arif Satria serta ratusan tamu dan undangan. lainya.

“Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, Tuhan
Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita
dapat berkumpul pada hari ini dalam semangat kebersamaan (Hidop Orang
Basudara), untuk menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Maluku Periode 2025-2030,”kata mantan anggota DPR RI itu.

Oleh karena itu, kata Lewerissa yang berpasangan dengan Abdullah Vanath itu, perkenankan untuk menyampaikan Selamat dan Sukses kepada segenap pengurus yang telah dilantik disertai harapan agar ICMI Maluku mampu menjadi organisasi para cendekiawan yang terus memberikan kontribusi yang maksimal bagi Pembangunan Maluku.

“Sebagaimana tergambarkan dalam tema besar yang diangkat pada
pelantikan ICMI Maluku hari ini, “Maluku Outlook 2025: Menata Jalan
Menuju Maluku yang Maju, Adil, dan Sejahtera Menyongsong Indonesia
Emas 2045.” Sebuah tema yang mencerminkan semangat kita semua untuk menjadikan Maluku sebagai bagian integral dari visi besar Indonesia Emas
2045,’jelasnya.

Dia mengakui, perjalanan panjang yang memerlukan komitmen, kerja
sama, dan strategi yang matang. Tema ini relevan dan sama dengan visi
pembangunan yang dicanangkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur
provinsi Maluku Terpilih, yaitu: Transformasi Maluku Menuju Maluku yang
Maju, Adil, Sejahtera Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

“Dalam berbagai diskusi, dkajianan penelitian yang telah dilakukan,
baik di pergurun tinggi maupun di berbagai kelompok intelektual, kita sering
menemukan pernyataan dan pengakuan bahwa “Provinsi Maluku adalah
daerah yang diberkahi dengan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari
hasil laut yang memberi kontribusi terbesar terhadap pendapatan ikannasional, pariwisata bahari yang eksotis, hingga keberagaman budaya yang memukau.”ingatnya.

Dalam konteks historis Maluku, kata Ketua DPD Partai Gerindra Maluku itu, sejak dahulu kala sudah dikenal dunia
sebagai the spice island. “Posisi strategis Maluku menjadikan wilayah ini
selain sebagai wilayah kontestasi yang diperebutkan oleh pelbagai bangsa
di dunia, tetapi juga menjadi wilayah perjumpaan pelbagai bangsa di dunia—
yang secara otomatis menjadikan Maluku sebagai wilayah yang sangat
multicultural,”terangnya.

Menurutnya, para ilmuan mencatat Kedigjayaan Maluku dengan rempahnya,
khususnya cengkeh dan pala sebagai tanaman endemik, membuat Belanda
menyebut Maluku sebagai the tree golden from the east (tiga emas dari
Timur), yaitu Ternate, Banda dan Ambon.
Arkeolog Giorgio Buccelati dan ahli Botani Purbakala Kathleen Galvin
menemukan data-data arkeologi bahwa penggunaan Cengkeh dari Maluku
telah digunakan sejak tahun 1700 SM oleh masyarakat Terqa di Mesopotamia dan Syiria pada abad 3 yang diperkenalkan oleh para sudagar Arab dan China.

“Selain itu semerbak bau harum Cengkeh, Pala dan Puly di China untuk para penggunanya dianggap sebagai symbol kebangsawanan, bahkan sejarah kedigjayaan Cengkeh, Pala dan Puly ini telah tercatat dalamTambo Dinasti Tang di negeri China sekitar tahun (618-906),”tuturnya.

“Selain, itu kita semua juga tahu bahwa Maluku merupakan salah satu
dari 8 provinsi pertama di Indonesia—sebagai penyangga kedaulatan NKRI.
Bahkan jauh sebelumnya, salam rentang waktu yang panjang para para
pahlawan asal Maluku—telah mengimajinasi lahirnya nasionalisme
Indonesia seperti pahlawan nasional Kapitang Pattimura, Cristina Martha
Tiahahu, Said Parinta, Kapitan Kakiali, Telukabessy dll, hingga para pejuang
perintis kemerdekaan Indonesia yang juga ikut dalam Sumpah Pemuda seperti DR. J. Leimena, AM. Sangadji dan AY Patty—dan perjuangan zmereka berlanjut hingga kemerdekaan Indonesia 1945,”lanjutnya.

Komitmen terhadap nasionalisme Indonesia juga telah membuat para
putera terbaik asal Maluku ini terlibat dalam menjaga kedaulatan NKRI dan
mengisi pembangunan Indonesia dengan sumberdaya manusia yang sangat
mumpuni, yang ikut mewarnai kabinet Indonesia pada masa Presiden
Soekarno hingga awal masa presiden Soeharto, antara lain: DR. Leimena,
Latuharhary, Ay. Patty, Ir. Marthinus Putuhena,Melkianus Agustinus
Pelupessy hingga Prof. dr. G.A. Siwabessy.

“Namun, apa yang terjadi dengan Maluku dewasa ini—kita mendapati
daerah ini sedang mengalami distorsi dan defisit dalam pelbagai aspek
kehidupan, antara lain, kita masih tercatat sebagai salah satu dari 4 provinsi
termiskin di Indonesia dan termasuk salah satu provinsi yang punya Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) yang rendah di Indonesia,”sebutnya.

“Saya mengangkat realisme-historis tentang kedigjayaan Maluku di
masa lalu bukan untuk membuat kita hanyut dalam romantisme historis,
demikian pula dengan fakta kekayaan Maluku—bukan untuk membuat kita
terlena, dan potret buram pembangunan bukan untuk membuat kita pesimis
dan kehilangan asah,”sambungnya.

Namun, ingat dia masyarakat
Maluku memiliki modal sosial historis yang besar dan mahal yang yang
sejatinya menginspirasi untuk lebih maju, kita juga terstimulus bahwa
punya modal SDA yang harus dikelola untuk mensejahterakan
masyarakat kita, serta tahu dan sadar bersama bahwa punya
banyak kelemahan dan tantangan yang menjadi masalah untuk di bedah bersama dan selanjutnya kita cari solusi bersama bahwa darimana
harus memulai untuk membangun daerah ini menuju Indonesia Emas 2045.

“Karena kita juga menyadari bahwa perjalanan pembangunan Maluku
menuju wilayah yang Sejahtera tidaklah mudah. Tantangan yang meliputi
kemiskinan, kesenjangan wilayah, infrastruktur yang belum merata di
berbagai pulau, dan minimnya kualitas sumber daya manusia masih menjadi
pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama ke depan,”tandasnya.
Oleh sebab itu, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Provinsi
Maluku Periode 2025-2030, pihaknya sangat menyadari tantangan di atas.”Kami
berkomitmen untuk mendorong Maluku menjadi wilayah yang mampu
bersaing secara nasional dan global, namun tetap menjunjung tinggi nilainilai
keadilan sosial. Kita perlu menempatkan Keadilan sosial, pemerataan
pembangunan, dan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana menjadi
prinsip dasar dalam mewujudkan cita-cita besar ini,”paparnya.

“Dalam Konteks itulah saya ingin menyampaikan beberapa pikiran
tentang pilar strategis Pembangunan provinsi Maluku yang akan terus kita
akselerasi untuk menyambut cita-cita Indonesia Emas 2045. Maluku,
sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, budaya, dan sejarah,
memiliki posisi unik dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kita tidak
hanya berbicara tentang pengelolaan sumber daya alam yang
berkelanjutan, tetapi juga bagaimana Maluku dapat menjadi pusat
pertumbuhan yang inklusif dan berdaya saing tinggi,”ulasnya.

“Sebagaimana kita ketahaui bersama Indonesia Emas 2045 adalah
visi besar yang dicanangkan pemerintah untuk menjadikan bangsa ini
sebagai salah satu kekuatan ekonomi, politik, dan budaya terkemuka didunia,”katanya.

Dalam perjalanan menuju visi tersebut, setiap provinsi memiliki peran
strategis untuk memberikan kontribusi nyata sesuai dengan potensi dan
kekuatan masing-masing, demikian juga Provinsi Maluku sebagai salah satu
Provinsi Kepulauan dengan karakteristik yang unik di Indonesia.

Pertama, Maluku sebagai Pusat Ekonomi Kelautan Indonesia.
Dengan kekayaan laut yang luar biasa, Maluku memiliki potensi untuk
menjadi pusat ekonomi kelautan Indonesia. Dalam visi kami, sektor
perikanan, budidaya laut, dan industri pengolahan hasil laut akan menjadi
tulang punggung ekonomi Maluku. Dengan pendekatan berbasis teknologi,
kita dapat meningkatkan nilai tambah dari hasil kelautan sekaligus
memastikan keberlanjutannya bagi generasi mendatang.

Sebagai bagian dari Indonesia Emas 2045, Maluku harus mampu
berkontribusi pada ketahanan pangan nasional melalui sektor perikanannya.
Langkah ini tidak hanya mendukung ekonomi lokal tetapi juga memperkuat
posisi Indonesia sebagai salah satu penghasil produk perikanan terbesar di
dunia.

Kedua, Infrastruktur untuk Meningkatkan Daya Saing Global. “Kami meyakini bahwa konektivitas dan aksesibilitas adalah kunci dalam menghadapi persaingan global. Kita perlu mendorong pembangunan
infrastruktur yang mendukung mobilitas barang, jasa, dan manusia di
seluruh wilayah Maluku dan regional lainnya,”ujarnya.

Pelabuhan-pelabuhan di
Maluku harus menjadi gerbang ekspor-impor yang strategis, tidak hanya
untuk kawasan timur Indonesia tetapi juga untuk pasar internasional. Selain itu, pengembangan infrastruktur digital akan menjadi prioritas.

“Dengan membangun jaringan telekomunikasi yang handal, kita akan
memastikan setiap masyarakat Maluku memiliki akses terhadap informasi
dan teknologi, sehingga mampu bersaing di era digital ini,”bebernya.

Ketiga, Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Masa
Depan. Indonesia Emas 2045 tidak hanya berbicara tentang ekonomi, tetapi
juga tentang manusia yang unggul dan berdaya saing global yang akan
mengisi bonus demografi nasional Indonesia. Oleh karena itu,
pembangunan sumber daya manusia di Maluku harus menjadi fokus utama.

“Kita perlu memperkuat sektor pendidikan dengan memastikan akses yang
merata, memperbaiki kualitas kompetensi guru dan dosen, dan
meningkatkan fasilitas belajar bagi generasi muda. Demikian juga
menggalakkan pendidikan vokasi, pelatihan keahlian yang relevan dengan
potensi Pembangunan di Maluku—sekaligus peningkatan soft skill berbasis
pada nilai-nilai luhur agama dan nilai-nilai kearifan local (local wisdom)
dankecerdasan local (local genius).
Sejalan dengan itu, kita perlu mengintegrasikan nilai-nilai local, seperti
dalam kehidupan orang basudara seperti budaya Pela, Gandong di Maluku
Tengah, Larvul Ngabal dan Aini ‘Ain di Maluku Tenggara, Kalwedo, Kidabela
di MBD dan KKT, Kai Wai di Buru, dan Wari Wa di SBB—demikian juga
budaya tolong menolong dan kerjasama seperti, masohi, badati, ma’ano, ke
dalam sistem pendidikan. Dengan begitu, generasi muda Maluku tidak
hanya menjadi individu yang kompeten secara akademis tetapi juga memiliki
identitas budaya yang kuat,”jelasnya.

Keempat, Maluku sebagai Contoh Pembangunan Berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia Emas 2045, keberlanjutan adalah salah satu pilar
utama. Maluku memiliki peluang besar untuk menjadi contoh pembangunan
yang berkelanjutan dengan memadukan eksploitasi sumber daya alam yang
bijaksana dan pro-pelestarian lingkungan.
Dalam wacana teologi agama-agama dewasa ini sedang
dikembangkan semangat ekoteologi.

“Dalam konteks ini agama-agama harus ikut bertanggungjawab dalam merawat lingkungan. Bahwa alam
bukan hanya menjadi obyek yang bebas dieksploitasi manusia sebagai
subyek—tetapi manusia dan alam adalah sama-sama sebagai subyek dan
sekaligus obyek. Karena jika alam hancur manusiapun akan hancur dan
musnah. Selain itu manusia dan alam adalah sama-sama makhluk Tuhan.
Selanjutnya kita juga perlu mengembangkan energi terbarukan,
seperti energi dari gelombang laut dan angin, sebagai sumber daya energi
baru bagi Maluku dan kawasan Timur Indonesia. Langkah ini sejalan dengan
komitmen nasional untuk mengurangi emisi karbon dan menciptakan masa
depan yang lebih hijau,”terangnya.

Kelima, Peran Maluku dalam Mengokohkan Kebinekaan
Indonesia. Indonesia Emas 2045 adalah visi untuk menciptakan bangsa
yang maju tanpa kehilangan identitasnya sebagai negara yang kaya akan
kebudayaan. Maluku, dengan keragaman suku, agama, dan adat istiadatnya
tersebar di 1.340 buah pulau, terdiri dari kurang lebih 100 suku dan sub suku,
117 buah bahasa dan dialek, ratusan marga atau fam, ratusan raja baik yang
bergelar Latu, Patty maupun Orang Kaya, serta pengalaman merajut
perdamaian selama lebih dari dua decade terakhir, dapat menjadi simbol
harmoni kebinekaan tersebut.

“Oleh karena itu, kita perlu menghidupkan kembali tradisi dan adat
istiadat sebagai aset budaya sekaligus memperkuat kohesi sosial. Dalam
konteks nasional, Maluku dapat berkontribusi sebagai model pengelolaan
masyarakat yang harmonis dan inklusif, memperkuat solidaritas dalam
keberagaman Indonesia,”tandasnya.

Dia melanjutkan, Perjalanan menuju
Indonesia Emas 2045 bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan tekad dan
strategi yang tepat, kita dapat mencapainya. Maluku memiliki semua potensi untuk menjadi pilar dalam visi besar ini. Dengan memanfaatkan kekayaan alam kelautan, memperkuat sumber daya manusia, membangun
infrastruktur, dan menjaga kelestarian budaya, kita tidak hanya akan
membangun Maluku, tetapi juga berkontribusi pada masa depan Indonesia.

“Saya ingin mengajak semua elemen masyarakat Maluku, termasuk
para cendekiawan Muslim yang tergabung dalam ICMI, untuk bersamasama
mewujudkan visi ini. Mari kita jadikan Maluku sebagai contoh
bagaimana daerah dapat berperan aktif dalam visi besar nasional, sehingga
ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya pada tahun 2045,
kita dapat bangga mengatakan bahwa Maluku telah memberikan kontribusi
terbaiknya bagi bangsa ini,”harapnya.(DM-04)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *