Connect with us

Parlemen

Soal Pengganti KM SN 87 & 73, Anos Yeremias : Kapal boleh Berganti, Tapi Pelayanan Tak Terhenti

Published

on

AMBON,DM.COM,-Kapal Motor Sabuk Nusantara (KM SN) 87 dan 73, saat ini sementara docking. Karenanya, pengganti dua kapal tersebut terus dikoordinasikan dengan instansi terkait agar tetap melayari rute sejumlah wilayah di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Sebab, kehadiran dua kapal tersebut sangat dibutuhkan warga MBD untuk berbagai keperluan.

Demikian salah satu anggota DPRD Provinsi Maluku, Anos Yeremias, melalui keterangan tertulis yang diterima DINAMIKAMALUKU.COM, Jumat (11/9/2026).

“Basudara samua yang beta kasihi. Terlebih dahulu beta menyampaikan permohonan maaf karena sejak tanggal 1 September 2026 beta mengunjungi sejumlah desa dan pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya dalam rangka pelaksanaan reses dan melihat secara langsung berbagai persoalan masyarakat,”kata Yeremias.

Wakil rakyat dari daerah pemilihan KKT dan MBD itu mengaku, agenda lapangan yang cukup padat, sehingga dia belum dapat berkonsentrasi penuh untuk mengecek perkembangan kapal pengganti KM Sabuk Nusantara 87 dan KM Sabuk Nusantara 73.

“Beta memahami bahwa sampai saat ini banyak basudara terus bertanya: apakah sudah ada kapal pengganti bagi kedua kapal tersebut, dan kapan kapal pengganti mulai beroperasi,”tanya dia.

Menurut Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi Maluku ini, pertanyaan tersebut sangat wajar, karena kapal perintis bukan sekadar sarana transportasi. “Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, kapal perintis merupakan urat nadi yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya,”terangnya

Sebab, ingat dia, kehadiran Kapal membawa penumpang, bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, hasil usaha masyarakat, obat-obatan serta berbagai kebutuhan penting lainnya.

“Beta juga memahami bahwa ada masyarakat yang tidak menyetujui penggunaan kapal pengganti jenis kargo untuk mengangkut penumpang. Keberatan tersebut harus dihargai, terutama karena berkaitan dengan kenyamanan, kelayakan dan keselamatan pelayaran,”jelasnya dalam logat Ambon.

Namun, ingat dia, selama mengunjungi beberapa pulau di Maluku Barat Daya, dirinya juga mendengar langsung keluhan dan permintaan dari masyarakat yang sangat membutuhkan kehadiran kapal pengganti.

“Mungkin jumlah mereka yang bersuara tidak banyak, tetapi kebutuhan yang mereka rasakan sangat mendesak,”sebutnya.

Namun, lanjutnya, bagi sebagian orang, kapal pengganti jenis kargo mungkin dinilai tidak layak atau bahkan tidak manusiawi untuk pelayanan penumpang.

“Akan tetapi, bagi masyarakat yang sama sekali tidak memiliki pilihan transportasi reguler, kehadiran kapal tersebut sangat berarti untuk bepergian karena urusan kesehatan, pendidikan, keluarga, pekerjaan maupun kebutuhan mendesak lainnya,”paparnya.

“Inilah realitas pelayanan transportasi di wilayah kepulauan. Masyarakat bukan sedang memilih antara kapal yang nyaman dan kapal yang kurang nyaman,”sebutnya.

Dalam banyak keadaan, jelasnya, masyarakat harus berhadapan dengan pilihan antara menggunakan sarana yang tersedia atau tidak dapat bepergian sama sekali.

“Karena itu, beta telah menghubungi PPK Angkutan Laut Perintis dan pihak operator untuk memastikan adanya pelayanan kapal pengganti bagi KM Sabuk Nusantara 87 dan KM Sabuk Nusantara 73,”bebernya.

Untuk itu, dirinya meminta agar persoalan ini segera mendapat perhatian karena mobilitas masyarakat dan distribusi barang antarpulau tidak boleh terhenti terlalu lama.

“Walaupun demikian, pengoperasian kapal pengganti tetap harus memenuhi ketentuan pelayaran. Keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas.
Manifest wajib tertib, kapasitas penumpang tidak boleh dilampaui, fasilitas keselamatan harus tersedia dan kapal harus dinyatakan layak oleh instansi yang berwenang. Kebutuhan mendesak masyarakat tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan,”ujarnya.

Apalagi, ingatnya, saat ini kondisi laut di wilayah Maluku Barat Daya juga sedang dipengaruhi gelombang dan angin, sehingga perjalanan antarpulau menjadi semakin sulit.
Apabila pelayanan kapal perintis terhenti terlalu lama, distribusi bahan kebutuhan masyarakat akan terganggu, harga barang dapat meningkat dan sejumlah pulau berpotensi mengalami kelangkaan kebutuhan pokok.

“Persoalan ini harus dilihat secara utuh. Aspirasi masyarakat yang menghendaki pelayanan kapal pengganti harus didengar, demikian juga keberatan masyarakat mengenai kelayakan kapal kargo untuk mengangkut penumpang,”tandasnya.

Dia berharap, Pemerintah dan operator harus mencari jalan keluar yang cepat, aman dan manusiawi.”Beta akan terus berkoordinasi dengan PPK Angkutan Laut Perintis, operator dan Dinas Perhubungan Provinsi Maluku untuk memperoleh kepastian mengenai kapal pengganti serta jadwal operasinya,”tegasnya.

Setelah memperoleh informasi resmi dan pasti, Yeremias akan segera menyampaikannya kepada basudara samua.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang terus memberikan informasi, masukan dan mengingatkan beta tentang persoalan ini,”imbuhnya.

“Beta menyadari masih banyak kekurangan, tetapi beta akan terus berusaha menyuarakan kebutuhan masyarakat kepulauan.
Sebab bagi masyarakat Maluku Barat Daya, kapal perintis bukan sekadar alat transportasi—kapal perintis adalah penyambung kehidupan antarpulau. Kapal boleh berganti, tetapi pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti,”pungkansya.(DM-04)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *