Connect with us

Hukum

Tiga Tersangka Dugaan Korupsi Dana DIPA Poltek Ambon Segera Disidangkan

Published

on

Pasca menerima hasil audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara dari BPKP Maluku-Malut, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon, mulai menyusun dakwaan tiga tersangka kasus dugaan korupsi Penggunaan anggaran DIPA Belanja Barang dan Modal tahun 2022 di Kampus Politeknik Negeri (Poltek) Ambon.

Tiga berkas tersangka itu adalah Ventje Salhuteru (Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Pembayar), Welma E. Ferdinandus (Pejabat Pembuat Komitmen/PPK) Belanja Rutin, serta Cristina Siwalete (Pejabat Pembuat Komitmen/PPK) Belanja Barang dan Modal.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ambon, Adhryansah, mengatakan, JPU Kejari Ambon baru saja menerima hasil audit perhitungan kerugian keuangan negara atas kasus dugaan korupsi dana DIPA Poltek Ambon yang menyeret tiga tersangka itu.

“Kami sudah terima hasil audit itu, dan tinggal pemberkasan didalamnya termasuk penyusunan dakwaan ketiga tersangka saja,” ujar Adhryansah, sesuai keterangan tertulis yang diterima DINAMIKAMALUKU.COM, Jumat,(8/2/2024).


Menurutnya, karena sementara pemberkasan oleh tim JPU, maka tidak lama lagi berkas perkara tiga tersangka tersebut akan dilimpah ke Pengadilan Tipikor Ambon untuk kepentingan sidang.
“Jadi tidak lama lagi sudah kami limpah ke Pengadilan itu, ikuti saja ya,” tandasnya.

Sekedar tahu saja, tim penyidik Kejaksaan Negeri Ambon resmi menahan tiga tersangka kasus dugaan korupsi Penggunaan anggaran DIPA Belanja Barang dan Modal tahun 2022 di Kampus Poltek Ambon.

Kepala Kejaksaan Negeri Ambon, Adhryansah mengatakan, alasan dilakukan penahanan karena ditakutkan tersangka melarikan diri, menghilangkan barang bukti serta mengulangi perbuatannya sesuai ketentuan KUHAP.

“Jadi alasan dilakukan penahanan karena sesuai ketentuan KUHAP, dan penahanan kita lakukan selama 20 hari ke depan, dan akan diperpanjang lagi jika diperlukan dalam rangkaian penyidikan,” ujar Kajari.

Saat ini, kata dia, tersangka Ventje Salhuteru (Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Pembayar), di tahan di Rutan Kelas II A Ambon, sedangkan dua tersangka lain di tahan di Lapas Perempuan Ambon.

Sebelumnya, ketiga tersangka ini ditetapkan sebagai tersangka sejak Jumat, 13 Oktober 2023 lalu.

Kajari mengaku, modus operandi yang dilakukan para tersangka, yakni, tersangka WEF dengan sepengetahuan FS membuat kebijakan terhadap beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh lima penyedia atas paket pekerjaan.

Diantaranya pekerjaan atas nama CV K dan CV SA. Dimana seluruh paket pekerjaan atas nama dua penyedia tersebut diambil alih pelaksanaannya oleh Politeknik Negeri Ambon.

Sedangkan tiga penyedia atas nama CV AIT, CV EP dan CV SAP, ada sebagian kegiatan dilaksanakan sendiri oleh penyedia dan beberapa paket pekerjaan atas nama penyedia juga diambil alih oleh Politeknik Negeri Ambon.

“Atas pengambil alihan paket-paket yang dikerjakan sendiri oleh Politeknik Ambon dengan mengatasnamakan penyedia, diberikan imbalan fee sebesar 3 persen dari nilai kegiatan kepada masing-masing penyedia,” jelas ArdyansahArdyansah, Jumat, 13 Oktober 2023, lalu.

Tersangka FS sebagai PPSPM, lanjut Kajari, menyetujui proses yang diajukan oleh WEF untuk penerbitan SPM (surat perintah membayar). Padahal, FS tahu bahwa administrasi yang diajukan oleh PPK tersebut tidak sesuai dengan ketentuan. Yang mana, kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri oleh PPSPM dan pihak pelaksana kegiatan lainnya pada Poltek Ambon.

“Selain itu PPK pengadaan barang dan jasa mengadakan perintah dari FS untuk melaksanakan kegiatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan tidak didukung oleh bukti pertanggungjawaban yang sah,” ungkapnya.

Akibat perbuatan yang diduga dilakukan oleh ketiga tersangka tersebut telah ditemukan kerugian negara sementara sebesar Rp 1.875.206.347.

“Setelah melalui proses pemaparan penyidik dan auditor, maka untuk lebih lengkapnya masih menunggu hasil audit yang sementara ini masih dihitung oleh auditor BPKP Maluku,” pungkasnya.(DM-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *