Pemkab MBD
Launching “NONA SARI” Pemkab MBD : Konsumsi Pangan Berbasis Produk Lokal
AMBON,DM.COM,– Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) melalui Dinas Pertanian dan Pangan meluncurkan inovasi NONA SARI (No Nasi Sehari) sebagai gerakan untuk mendorong konsumsi pangan lokal, memperkuat kemandirian pangan.
Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Inovasi yang diprakarsai Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten MBD, Thomas E. Katipana, ini mengusung tema “Mengangkat Produk Lokal, Menguatkan Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat” dilaksanakan di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan MBD, Kamis (6/8/2026).
Peluncuran inovasi tersebut dihadiri Sekretaris Daerah MBD, Eduard J. S. Davidz, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten MBD, Johzes H. F. Leunufna, sejumlah pimpinan perangkat daerah, Lurah Tiakur, serta dan pejabat struktural lainnya.
Ketua Tim Inovasi NONA SARI, Rosdianawati Woriwun, dalam laporannya menyampaikan bahwa NONA SARI merupakan langkah nyata pemerintah daerah untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong pemanfaatan hasil pertanian dan pangan lokal secara berkelanjutan.
Menurutnya, gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi budaya masyarakat dalam mengonsumsi pangan lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian pangan daerah.
Woriwun juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, serta seluruh pimpinan perangkat daerah atas dukungan terhadap pelaksanaan inovasi NONA SARI.
Ia berharap implementasinya dapat terus dipantau dan dievaluasi agar berjalan secara bertahap dan berkesinambungan di seluruh wilayah MBD.
Sementara itu, Sekretaris Daerah MBD Eduard J. S. Davidz secara resmi meluncurkan gerakan NONA SARI yang ditandai dengan prosesi menuang sageru, minuman tradisional yang berasal dari pohon koli, sebagai simbol kekayaan pangan lokal MBD.
Sekda menegaskan bahwa NONA SARI bukan sekadar gerakan untuk mengurangi konsumsi nasi, tetapi merupakan upaya membangun kesadaran masyarakat untuk kembali memanfaatkan pangan lokal yang sehat, bergizi, aman, sekaligus memiliki nilai ekonomi.
”Kita ingin mendorong masyarakat agar kembali memanfaatkan pangan lokal yang kita miliki. Kita harus mampu memproduksi sendiri dan mengonsumsi sendiri, sehingga terjadi perputaran ekonomi di daerah dan ketergantungan terhadap komoditas dari luar dapat terus dikurangi,” ujarnya.
Ia meminta Dinas Pertanian dan Pangan segera menyusun data mengenai berbagai komoditas pangan yang masih didatangkan dari luar daerah. Data tersebut, katanya, penting sebagai dasar dalam menyusun strategi peningkatan produksi pangan lokal.
Menurutnya, penguatan sektor pangan lokal juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan MBD menghadapi pengembangan Blok Abadi Masela. Daerah ini diharapkan mampu mengambil peran sebagai basis logistik dengan menyediakan berbagai kebutuhan pangan yang bersumber dari produksi masyarakat lokal.
”Kita harus mempersiapkan masyarakat untuk menjadi produsen. Jika komoditas pangan dapat diproduksi sendiri, maka ke depan hasil produksi masyarakat dapat menjadi pemasok kebutuhan logistik bagi pengembangan Blok Abadi Masela,” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan tersebut, Sekda juga membagikan pengalamannya dalam menerapkan konsumsi pangan lokal. Ia mengatakan telah lebih dari enam bulan tidak mengonsumsi nasi dan menggantinya dengan pangan lokal seperti kasbi, petatas, dan pisang.
”Selama ini saya merasakan kondisi tubuh tetap sehat dan bertenaga. Ini menunjukkan bahwa pangan lokal memiliki nilai gizi yang baik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, gerakan NONA SARI juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun pola hidup sehat melalui perubahan kebiasaan konsumsi serta pemanfaatan pangan lokal yang tersedia di daerah.
Mengakhiri sambutannya, Sekda mengajak seluruh perangkat daerah, pemerintah kecamatan, kelurahan dan desa, serta masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan NONA SARI sebagai gerakan berkelanjutan dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga dan memperkuat identitas pangan lokal MBD.(DM-01)