Pemkot Ambon
Wali Kota Ambon : Kudatuli Pelajaran Berharga Bagi Demokrasi Indonesia
AMBON, DM.COM,-Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena mengatakan, Kudatuli memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi perjalanan demokrasi Indonesia.
Pernyataan Wali Kota, ketika menghadiri malam renungan 30 tahun Kudatuli yang digelar DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, bersama DPC PDI Perjuangan kabupaten/kota, PAC PDI Perjuangan Kota Ambon, dan seluruh Anak Ranting PDI Perjuangan bersama sesepuh, senior PDI Perjuangan dan tamu undangan lainya dengan memakai pakaian serba hitam berkumpul di Pattimura Park mengenang tragedi memilukan 30 tahun lalu, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, demokrasi hadir untuk memperjuangkan hak-hak rakyat, sehingga setiap bentuk kekerasan maupun upaya membungkam kebebasan harus ditolak.
Karena itu, Pemerintah Kota Ambon berkomitmen untuk terus menjaga dan mengawal proses demokrasi agar tetap berjalan sesuai nilai-nilai konstitusi.
“Peristiwa itu adalah pelajaran berharga. Segala tindakan yang muncul harus dilawan,” ujarnya.
Bodewin juga menegaskan bahwa partai politik merupakan instrumen penting dalam demokrasi. Sebagai pemerintah, kata dia, Pemkot Ambon hadir sebagai pengayom bagi seluruh partai politik tanpa membedakan latar belakang.
“Di era demokrasi ini pemerintah ada di tengah mendukung seluruh partai politik. Peristiwa Kudatuli mengajarkan kita bersama untuk mengawal demokrasi berjalan dengan baik. Dalam demokrasi tidak boleh ada kekerasan, dalam demokrasi tidak boleh ada pembungkaman terhadap sesuatu,” katanya.
Ketua Panitia Penyelenggara, Johan Rahantoknam, menjelaskan bahwa malam perenungan 30 tahun Kudatuli melibatkan seluruh pengurus, kader, dan simpatisan PDI Perjuangan Maluku yang berada di Kota Ambon dan sekitarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen dan konsistensi kader dalam menjaga semangat perjuangan partai.
“Momen ini menjadi penanda komitmen dan konsistensi kader dalam mengobarkan semangat juang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Benhur George Watubun, menegaskan seluruh kader yang hadir berada dalam satu suasana kebatinan untuk mengenang tragedi yang telah meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia.
Ketua DPRD Provinsi Maluku ini mengaku, Kudatuli bukan hanya luka milik PDIP ataupun PDI Perjuangan, namun luka seluruh rakyat Indonesia. Hal ini, karena menjadi simbol pembungkaman terhadap demokrasi.
“Hari ini kita berada dalam satu suasana kebatinan. Peristiwa kelam itu sungguh menyakiti bangsa kita. Kudatuli bukan luka PDI atau PDI Perjuangan, tetapi luka bangsa,”tandas Watubun.
Watubun menilai, tragedi tersebut merupakan bentuk pembredelan terhadap demokrasi, ketika kebebasan rakyat diamputasi dan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat berusaha dirampas.
Namun, lanjutnya, mengenang Kudatuli bukan untuk terus larut dalam catatan kelam masa lalu. Sebaliknya, peristiwa itu harus menjadi pengingat bagi negara maupun seluruh elemen masyarakat bahwa tidak boleh lagi ada pengkhianatan terhadap nilai-nilai demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Di NKRI tidak boleh ada lagi pengkhianatan terhadap nilai-nilai demokrasi. Tidak boleh ada batasan terhadap kebebasan berekspresi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan mengenang Kudatuli bukan hanya milik para fungsionaris partai, tetapi menjadi milik seluruh keluarga besar PDI Perjuangan yang selama ini telah berjuang menjaga eksistensi partai sebagai bagian dari sistem politik nasional dalam menjalankan amanat konstitusi.
Watubun mengatakan, semangat yang terus dijaga PDI Perjuangan adalah mempertahankan harkat dan martabat demokrasi. Karena itu, partai menolak segala bentuk kekerasan, menolak penggunaan buzzer untuk membungkam kebenaran, serta menolak praktik-praktik yang tidak adil dalam kehidupan demokrasi.
Mengutip pesan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Benhur menyebut partainya akan selalu mengambil posisi sebagai penyeimbang kekuasaan.
“Jika itu untuk kepentingan rakyat, maka partai akan berdiri di depan mendukung.
Namun apabila bertentangan dengan kepentingan rakyat, PDI Perjuangan akan tampil melawan,” katanya.
Pada kesempatan itu, Benhur juga menyampaikan rasa hormat kepada para senior dan sesepuh partai yang turut hadir dalam malam perenungan tersebut.
Menurutnya, mereka adalah saksi hidup sekaligus pelaku sejarah yang telah mempertahankan perjuangan partai di masa-masa sulit.
“Mereka ada di hari kemarin, sehingga kita ada di hari ini. Marilah kita menghormati jasa-jasa mereka. Sebab tanpa perjuangan itu, PDI Perjuangan tidak ada hari ini,” tandasnya.
Untuk diketahui, pengambilalihan paksa Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, terjadi akibat konflik internal antara pendukung Megawati Soekarnoputri dan kubu Soerjadi yang didukung pemerintah Orde Baru. Peristiwa berdarah ini memicu kerusuhan massal di Jakarta. Berdasarkan catatan Komnas HAM, tragedi ini mengakibatkan 5 orang meninggal dunia, 149 orang luka-luka, dan 23 orang dinyatakan hilang.
Bagi kader partai berlambang Banteng Kekar Moncong Putih itu, Kudatuli adalah simbol perlawanan terhadap otoritarianisme yang membuka jalan bagi era demokrasi di Indonesia. Peristiwa bersejarah ini diperingati secara rutin oleh partai dan keluarga korban setiap tanggal 27 Juli untuk menuntut keadilan.(DM-04)